Daun Leilem, Sayuran Tradisional Khas Minahasa
- 14 Sep 2026 14:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Daun leilem merupakan salah satu tanaman khas Sulawesi Utara yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Minahasa, khususnya dalam tradisi kuliner Minahasa. Tanaman ini dalam bahasa latin disebut dengan Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn. dan dikenal sebagai tanaman endemik Sulawesi Utara yang telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan, khususnya sebagai sayuran dan campuran berbagai masakan tradisional.
Mengutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, budaya-indonesia.org, Daun Leilem adalah tanaman tropis yang memiliki tinggi sekitar 2 - 4 meter, bentuk daun bulat telur, berwarna hijau mengkilat dengan rasa cenderung agak sepat dan sedikit pahit. Namun rasa sepat dan pahit tersebut akan hilang jika Daun Leilem sudah bercampur dengan bumbu woku (cabe, bawang, jahe, kunyit, kemangi, sereh, daun bawang, daun kunyit, daun pandan dan daun jeruk) apalagi jika kita mengolahnya dengan cabe hijau.
Keberadaan leilem tidak hanya penting sebagai tanaman pangan, tetapi juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat setempat. Daunnya secara turun-temurun digunakan dalam berbagai olahan makanan tradisional Minahasa, termasuk sebagai campuran masakan berbahan daging dan ikan.
Salah satu keistimewaan daun leilem adalah pemanfaatannya sebagai bahan makanan. Masyarakat Minahasa menggunakan daun ini sebagai sayuran maupun rempah dalam berbagai hidangan. Karakter rasanya yang khas membuat leilem dapat memberikan cita rasa tersendiri pada masakan.
Penelitian dari Universitas Sam Ratulangi menyebutkan bahwa daun leilem telah lama digunakan masyarakat adat Minahasa sebagai sayuran dan sebagai bagian dari berbagai resep masakan daging. Daun leilem juga menjadi salah satu tanaman yang menarik untuk dikembangkan sebagai pangan lokal karena selain dapat dikonsumsi, tanaman ini memiliki kandungan senyawa bioaktif. Sejumlah penelitian telah mengidentifikasi keberadaan berbagai senyawa metabolit sekunder dalam daun leilem. Penelitian yang diterbitkan dalam Chemistry Progress menemukan adanya flavonoid, steroid, dan alkaloid pada ekstrak daun leilem.
Meski demikian, hasil penelitian laboratorium tersebut tidak berarti daun leilem dapat secara langsung dianggap sebagai obat. Penelitian lebih lanjut, termasuk penelitian pada manusia, masih diperlukan untuk memastikan manfaat kesehatan dan keamanan penggunaannya.
Selain dimanfaatkan sebagai sayuran, daun leilem mulai mendapat perhatian sebagai bahan untuk produk pangan dan herbal. Salah satu pemanfaatan daun leilem adalah dalam bentuk teh celup. Potensi tersebut membuka peluang pengembangan leilem menjadi berbagai produk bernilai tambah, terutama dengan tetap memperhatikan keamanan pangan, metode pengolahan, dan bukti ilmiah mengenai manfaatnya.
Bagi masyarakat Minahasa, leilem bukan sekadar tanaman yang tumbuh di lingkungan sekitar, tetapi juga telah menjadi bagian dari tradisi pemanfaatan pangan secara turun-temurun. Daun leilem (Clerodendrum minahassae) merupakan tanaman khas Sulawesi Utara yang memiliki nilai kuliner sekaligus potensi ilmiah. Daunnya telah lama digunakan masyarakat Minahasa sebagai sayuran dan bahan campuran masakan. Kekayaan tersebut membuat leilem menjadi salah satu tanaman pangan lokal yang menarik untuk terus diteliti dan dikembangkan.
Nah berikut salah satu olahan Daun Leilem yang mampu menggugah selera , yuk coba bikin ya ikuti resepnya! (dikutip dari cookpad.com - Dapur Loli)
Ayam Woku Belanga Khas Manado
Bahan utama & Daun yg diiris kasar :
1 ekor ayam negri, potong kecil-kecil (12-14 potong) agar bumbu mudah meresap. boleh juga pakai ayam fillet
1 buah jeruk nipis dan sejumput garam utk marinasi ayam
20 lembar daun leilem (boleh diganti daun melinjo), iris kasar
10 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya, iris halus
1 lembar daun pandan, iris 4 bagian atau bisa juga dibuat simpul agar mudah diangkat
1 lembar daun kunyit, iris kasar
2-3 batang sereh pakai bagian bawahnya sekitar 10 cm, geprek/memarkan
1/2 buat tomat
1 sdt garam
1 sdt gula pasir
1/2 sdt kaldu jamur/penyedap rasa (optional)
150-200 ml air
3 batang daun bawang, iris halus (masukkan terakhir)
4 ikat kemangi, petiki daunnya (masukkan terakhir)
Bumbu yang dihaluskan :
3 cabe merah keriting
10 buah cabe hijau
10 buah cabe rawit hijau (sesuai selera)
3-5 buah cabe rawit merah (sesuai selera)
6 butir bawang merah
2 butir kemiri
1/2 ruas kunyit (me: 1 sdt kunyit bubuk)
1 ruas jahe (me: 1 sdt jahe bubuk)
Cara Membuat :
1.Siapkan bahan. Ayam dipotong 12-14 bagian, marinasi 30 menit dgn air jeruk nipis dan sejumput garam. Tumis ayam dengan sedikit minyak sampai berubah warna (1/2 matang). Sisihkan.
Me: pakai ayam fillet (dada & paha), potong dadu.
2.Haluskan bumbu-bumbu. Daun melinjo iris kasar saja. Daun kunyit, daun bawang diiris halus. Daun pandan iris 4 bagian. Daun jeruk dibuang tulang daunnya, iris halus.
3.Panaskan minyak dalam jumlah yang cukup. Tumis bumbu halus, daun jeruk, daun pandan, daun kunyit, dan sereh sampai harum dan tidak langu.
4.Tambahkan ayam, daun melinjo, dan tomat. Aduk rata. Masukkan garam, gula, dan penyedap rasa/kaldu jamur. Tambahkan air 150- 200 ml. Masak sampai bumbu meresap, daun2an jadi lunak dan ayam empuk. Koreksi rasa. Kalau ayam blm empuk, tambahkan sedikit air.
5.Terakhir masukkan daun bawang, aduk-aduk sebentar, dan paling terakhir masukkan daun kemangi. Masak sampai air menyusut.
6.Sajikan dengan nasi putih panas. Sedaap sekali😋. Oiya, sereh n pandan diangkat dulu ya sebelum disajikan.
7.Recook berkali-kali resep ini, kali ini pakai ayam utuh (bukan fillet).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....