Mengenal Kembali Ragam Umbi Lokal, dari Kimpul hingga Uwi
- 19 Agt 2026 09:41 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Akhir-akhir ini, media sosial menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali beragam umbi lokal yang sebelumnya kurang dikenal, terutama oleh generasi muda. Nama seperti kimpul, gadung, garut, sente, bote, mbolo, mbili, telo ndurak, suwek hingga uwi mulai muncul melalui konten yang memperlihatkan bentuk, pengolahan, dan pemanfaatannya sebagai bahan pangan.
Fenomena tersebut salah satunya terlihat dari konten Ibu Tin asal Bantul yang dikenal sebagai Ibu Kimpul melalui akun @black.sheep8208. Tidak hanya mengolah kimpul, ia memperkenalkan berbagai jenis umbi dengan mengolahnya menjadi makanan yang lebih familiar sehingga masyarakat dapat mengenali bahan pangan lokal melalui cara yang dekat dengan keseharian.
Kementerian Pertanian melalui Panduan Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Talas mencatat kimpul atau talas Belitung dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Sementara itu, dalam inventarisasi sumber daya genetik tanaman pangan Kementerian Pertanian, garut dicatat sebagai Maranta arundinacea, sedangkan suweg dikenal sebagai Amorphophallus campanulatus.
Untuk kelompok gadung-gadungan, Kementerian Pertanian melalui kajian pengelolaan plasma nutfah mencatat gadung sebagai Dioscorea hispida, gembili sebagai Dioscorea esculenta, dan ubi kelapa sebagai Dioscorea alata. Penelitian IPB University juga menggunakan tiga spesies tersebut dalam kajian karakter umbi dan kandungan nutrisi Dioscorea yang ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Nama mbolo atau gembolo juga memiliki identitas ilmiah yang cukup jelas, yakni Dioscorea bulbifera, berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Mutu Pangan dan dikerjakan oleh peneliti bidang teknologi pangan. Penelitian tersebut menyebut gembolo sebagai salah satu tanaman yang pemanfaatannya belum maksimal, meski umbinya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pangan.
Sementara itu, sente dan bote merupakan contoh nama lokal yang perlu dibaca berdasarkan konteks daerah karena satu sebutan dapat digunakan untuk jenis tanaman yang berbeda, sedangkan telo ndurak belum dapat dipastikan nama ilmiahnya hanya berdasarkan penyebutan lokal dalam konten media sosial. Karena itu, ketiga nama tersebut lebih tepat diperkenalkan sebagai nama lokal terlebih dahulu sampai terdapat identifikasi botani yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemunculan berbagai nama umbi tersebut di media sosial memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal bahwa sumber pangan Indonesia tidak hanya terdiri dari singkong, ubi jalar, atau kentang. Dari kimpul, gadung, garut, mbolo, mbili, suwek hingga berbagai jenis uwi, pengenalan melalui konten kreatif dapat menjadi pintu untuk kembali melihat keragaman pangan lokal yang selama ini tumbuh di sekitar masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....