Jenang Sapar, Tradisi Kuliner Jawa yang Sarat Makna dan Kebersamaan

  • 31 Jul 2026 14:52 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Jenang Sapar merupakan salah satu kuliner tradisional yang masih dikenal dan dibuat oleh sebagian masyarakat Jawa, khususnya ketika memasuki bulan Safar dalam kalender Hijriah. Di beberapa daerah, makanan ini juga dikenal dengan sebutan Tajin Sapar atau Jenang Grendul.

Bukan hanya sekadar hidangan manis, Jenang Sapar memiliki nilai budaya, sosial, dan religius yang diwariskan secara turun-temurun. Mengutip dari laman NU Online Jawa Timur, Jenang Sapar merupakan hidangan yang umum disajikan saat memasuki bulan Safar. Jenang ini memiliki cita rasa manis dengan isian beras ketan yang dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil.

Tradisi membuat Jenang Sapar telah berlangsung secara turun-temurun di tengah masyarakat. Secara umum, Jenang Sapar dibuat menggunakan bahan utama berupa tepung ketan atau bahan sejenis, kemudian dibentuk menjadi bulatan kecil.

Bulatan tersebut dimasak dalam kuah gula merah hingga menghasilkan warna cokelat dan rasa manis. Hidangan ini biasanya dilengkapi dengan kuah santan yang memberikan rasa gurih sehingga menciptakan perpaduan rasa manis dan gurih.

Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, bahan utama Jenang Sapar antara lain tepung ketan, gula merah, gula pasir, garam, air, santan, daun pandan, dan nangka. Bulatan adonan ketan direbus hingga mengapung, kemudian dimasak bersama gula merah dan bahan lainnya. Setelah matang, jenang disajikan dengan kuah santan.

Keberadaan Jenang Sapar sangat erat dengan bulan Safar. Bagi masyarakat yang masih mempertahankan tradisi tersebut, membuat Jenang Sapar menjadi salah satu cara untuk menyambut atau memperingati bulan Safar bersama keluarga dan lingkungan sekitar.

Tradisi tersebut tidak hanya dilakukan untuk dikonsumsi sendiri. Jenang Sapar juga sering dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Kegiatan berbagi makanan ini membuat tradisi tersebut memiliki fungsi sosial yang penting karena dapat mempererat hubungan antar masyarakat dan menjaga silaturahmi.

Di sejumlah wilayah Jawa Timur, pembuatan Jenang Sapar bahkan dilakukan secara bersama-sama. Misalnya, tradisi di masyarakat Lumajang dilakukan secara gotong royong dan melibatkan berbagai generasi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Jenang Sapar tidak hanya menjadi bagian dari kuliner tradisional, tetapi juga menjadi sarana untuk mempertahankan kebersamaan dan mengenalkan budaya kepada generasi muda.

Jenang Sapar mempunyai filosofi yang berkaitan dengan rasa syukur dan harapan akan kehidupan yang baik. Rasa manis pada jenang dimaknai sebagai harapan agar kehidupan masyarakat juga dipenuhi kebaikan dan keberkahan. Jenang Sapar dapat menjadi media simbolik atau tafa'ul, yaitu ungkapan harapan baik kepada Allah SWT.

Bulatan-bulatan ketan yang menjadi ciri khas Jenang Sapar juga memiliki makna sebagai gambaran bahwa manusia berasal dari asal yang sama. Perbedaan yang ada diantara manusia diharapkan tidak menjadi alasan untuk memutus hubungan, melainkan dapat disatukan dalam kehidupan yang harmonis.

Dengan demikian, tradisi Jenang Sapar mengandung pesan tentang pentingnya persatuan, silaturahmi, berbagi, dan rasa syukur. Membagikan jenang kepada tetangga menjadi bentuk sederhana untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan masyarakat.

Keberadaan makanan tradisional seperti Jenang Sapar menghadapi tantangan di tengah maraknya makanan-makanan modern. Oleh karena itu, tradisi ini perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Seiring perkembangan zaman, berbagai kreasi jenang sapar atau bubur safar umumnya memadukan paduan rasa manis dan gurih dari elemen utama seperti jenang grendul (bola ketan), bubur sumsum, dan bubur mutiara. Hidangan tradisional khas Jawa Timur ini sering dikreasikan dengan tambahan bahan lokal yang lezat. Selain itu jenang atau bubur safar ini bisa dikreasikan dalam berbagai warna warni.

Jenang Sapar merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa. Di dalamnya terdapat perpaduan antara cita rasa kuliner, nilai kebersamaan, serta pesan moral dan religius. Tradisi tersebut juga menjadi simbol syukur, harapan akan kehidupan yang baik, kebersamaan, berbagi, serta menjaga silaturahmi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....