Lebaran Ketupat , Tradisi Unik Perayaan Idulfitri
- 26 Mar 2026 11:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Lebaran Ketupat menjadi salah satu tradisi khas masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang biasanya dirayakan 7 hari setelah Hari Raya Idulfitri atau pada tanggal 7 atau 8 Syawal, setelah umat Muslim menunaikan puasa sunnah Syawal enam hari. Tradisi ini tidak sekadar tentang makanan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur dan momentum mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dalam perspektif penelitian budaya dan pariwisata, ketupat dipandang sebagai bagian penting dari warisan kuliner Indonesia. Studi dalam Journal of Ethnic Foods (2024) yang dikutip pada springer.com menyebutkan bahwa ketupat merupakan “culinary heritage” yang memiliki keterkaitan erat dengan praktik keagamaan dan budaya masyarakat Indonesia. Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa tradisi kupatan mencerminkan rasa syukur yang diwujudkan melalui makanan khas berbahan dasar beras yang dibungkus janur.
| Baca juga: Lontong Kerucut Bungkus Daun Pisang |
Lebih dari sekadar makanan, Lebaran Ketupat juga memiliki makna simbolik yang kuat. Dalam penelitian sosial budaya oleh Universitas Islam Negeri Sumatera Utara pada 2025 yang dipublikasikan di ejournal.sembilanpemuda.id, tradisi ini disebut sebagai bentuk perayaan keberhasilan menjalankan ibadah puasa sekaligus simbol kesucian dan kebersamaan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa ketupat merepresentasikan “purity, peace, and togetherness” dalam kehidupan masyarakat setelah Ramadan. Penelitian lain yang dilakukan oleh Universitas Islam Negeri Metro Lampung berjudul "Nilai dan Fungsi Lebaran Ketupat dalam Masyarakat di Desa Gantiwarno Lampung" (2025) juga menunjukkan bahwa kegiatan dalam Lebaran Ketupat, seperti makan bersama dan saling berbagi makanan, berfungsi sebagai sarana memperkuat hubungan sosial dan mempererat silaturahmi.
Tradisi ini menjadi momen penting untuk membangun interaksi sosial yang harmonis. Selain itu, Lebaran Ketupat juga memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Dalam kajian sosiokultural oleh Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas PGRI Palangka Raya pada 2024, tradisi ini disebut mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari penjualan janur, bahan makanan, hingga penyelenggaraan acara budaya.
Aktivitas ini tidak hanya menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat identitas daerah sebagai destinasi wisata budaya. Menariknya, tradisi ini juga berkembang di berbagai daerah dengan nuansa yang berbeda-beda, seperti di Jawa, Madura, hingga komunitas diaspora Jawa di luar daerah.
Bahkan, di beberapa daerah, Lebaran Ketupat dirayakan dengan festival besar yang mengundang wisatawan untuk ikut merasakan kemeriahannya, salah satunya adalah Pawai & Festival Ketupat Kota Gorontalo. Pada akhirnya, Lebaran Ketupat bukan hanya perayaan pascaIdulfitri, tetapi juga representasi kekayaan budaya Indonesia yang memiliki potensi besar dalam industri pariwisata. Seperti dirangkum dalam berbagai penelitian, tradisi ini menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan ekonomi dalam satu perayaan yang mampu menarik minat wisatawan sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....