Sejarah Sate Lilit Bali, Warisan Kuliner yang Sarat Makna Budaya
- 02 Jun 2026 09:59 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sate lilit merupakan salah satu makanan khas Bali yang hingga kini tetap menjadi ikon kuliner Pulau Dewata. Berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan potongan daging yang ditusuk, sate lilit dibuat dari daging yang dicincang halus, dicampur dengan berbagai rempah khas Bali, lalu dililitkan pada batang bambu pipih atau batang serai sebelum dibakar di atas bara api. Nama “lilit” sendiri berasal dari cara pembuatannya, yaitu melilitkan adonan daging pada media penyangga tersebut.
Menurut buku dan ulasan budaya kuliner yang dimuat dalam Majalah Sedap Edisi 12 Tahun 2016, sate lilit bukan sekadar makanan sehari-hari, melainkan memiliki hubungan erat dengan tradisi dan upacara keagamaan masyarakat Hindu Bali. Pada masa lampau, sate lilit menjadi bagian dari sesaji dalam berbagai ritual adat dan keagamaan. Hidangan ini biasanya disajikan bersama lawar dan berbagai jenis olahan daging lainnya sebagai simbol penghormatan kepada para dewa serta ungkapan rasa syukur masyarakat Bali.
Dalam tradisi Bali, proses pembuatan sate lilit juga mengandung nilai filosofis. Dahulu, pembuatan sate lilit untuk upacara adat dilakukan oleh kaum pria secara gotong royong. Mulai dari menyembelih hewan, mencampur bumbu, melilitkan adonan pada bambu, hingga memanggangnya dilakukan bersama-sama. Karena itu, kemampuan membuat sate lilit bahkan dianggap sebagai simbol kejantanan dan tanggung jawab seorang pria dalam kehidupan bermasyarakat.
Bentuk sate lilit yang melingkar dan menyatu pada batang bambu juga memiliki makna kebersamaan. Filosofi tersebut mencerminkan eratnya hubungan sosial masyarakat Bali yang menjunjung tinggi nilai gotong royong dan persatuan. Tak heran jika sate lilit sering hadir dalam berbagai acara adat, perayaan keluarga, hingga kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak orang.
Pada awalnya, sate lilit banyak menggunakan daging babi atau ikan laut karena menyesuaikan dengan budaya dan kondisi geografis Bali yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu serta memiliki wilayah pesisir yang kaya hasil laut. Seiring berkembangnya pariwisata, bahan dasar sate lilit pun semakin beragam, mulai dari daging ayam hingga sapi agar dapat dinikmati oleh berbagai kalangan wisatawan dan masyarakat dari latar belakang berbeda.
Hingga saat ini, sate lilit tetap menjadi salah satu kuliner tradisional yang paling dicari wisatawan ketika berkunjung ke Bali. Aroma rempah-rempah khas seperti kunyit, lengkuas, bawang merah, bawang putih, dan kelapa parut yang berpadu dengan proses pembakaran tradisional menghasilkan cita rasa gurih yang khas. Lebih dari sekadar makanan, sate lilit merupakan warisan budaya yang mencerminkan sejarah, nilai spiritual, dan kebersamaan masyarakat Bali yang terus dijaga dari generasi ke generasi
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....