Ruminasi Mental, ketika Pikiran Terjebak Masa Lalu dan Kekhawatiran Masa Depan
- 02 Sep 2026 18:42 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Kondisi seseorang yang menghabiskan banyak waktu di rumah dan tidak memiliki keinginan untuk keluar dapat berdampak pada kondisi psikologis. Salah satu kondisi yang dapat muncul adalah ruminasi mental, yakni ketika pikiran terus berputar pada masa lalu dan dipenuhi kekhawatiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
Hal tersebut disampaikan Psikolog Surabaya, Wenika, dalam perbincangan bersama Pro1 melalui sambungan telepon, Rabu 2 September 2026. Ia menjelaskan, ruminasi mental sering kali ditandai dengan perasaan otak yang melambat, namun pada saat bersamaan dipenuhi tumpukan pikiran yang seolah tidak pernah selesai.
Berbeda dengan istirahat yang dapat memberikan kesegaran, ruminasi mental justru membuat seseorang terjebak dalam pemikiran yang berulang. Pikiran terus kembali pada kejadian masa lalu atau dipenuhi kecemasan berlebihan terhadap masa depan, sehingga seseorang sulit hadir, menikmati, dan fokus pada kehidupan yang sedang dijalani.
Menurut Wenika, gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa kelelahan luar biasa, bahkan ketika melakukan aktivitas komunikasi sederhana. Seseorang juga dapat mengalami lupa terhadap tujuan kecil, seperti saat hendak mengambil sesuatu di kulkas, hingga merasa aktivitas mendasar seperti menyikat gigi menjadi sebuah beban berat.
| Baca juga: Kesehatan Mental Jadi Kunci Lansia Sehat |
“Ruminasi mental bukanlah kemalasan. Semakin lama kondisi ini dibiarkan, semakin jauh individu tersebut terasing dari keseharian normal dan lingkungannya,” ujar Wenika. Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan menunjukkan kurangnya kemauan seseorang, melainkan dapat menjadi tanda bahwa sistem saraf sedang berada dalam kondisi bertahan hidup.
Wenika mengatakan, pemulihan tidak harus dimulai dengan motivasi besar ataupun perubahan drastis dalam waktu singkat. Menurutnya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari justru dapat menjadi awal untuk membangun kembali energi dan keinginan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Mulailah dari satu langkah sederhana dan jangan membebani diri sendiri. Pemulihan adalah proses bertahap yang membutuhkan kesabaran, sehingga setiap kemajuan kecil tetap memiliki arti,” jelasnya. Ia merumuskan pentingnya mengenali kebiasaan kecil yang sesuai dengan kondisi diri, menjalankannya secara konsisten, serta memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu.
Lebih lanjut, Wenika mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan ruminasi mental dengan kemalasan. Bagi seseorang yang merasakan gejala serupa, penting untuk tidak menghadapi kondisi tersebut seorang diri dan segera mencari dukungan profesional maupun informasi dari sumber terpercaya. “Dengan kesadaran, dukungan yang tepat, dan langkah kecil yang konsisten, ruminasi mental dapat dihadapi tanpa rasa malu dan tanpa harus merasa terbebani,” kata Wenika mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....