Muda Kreatif, Aditya Bangun Klinik Tumbuh Kembang Anak di Surabaya

  • 10 Jun 2026 14:19 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Berawal dari layanan terapi rumah ke rumah saat pandemi Covid-19, Therapedia Developmental Center kini berkembang menjadi klinik tumbuh kembang anak dengan tiga cabang. Perjalanan tersebut dibangun oleh Aditya Agus Setiawan, terapis okupasi yang memulai usahanya secara mandiri pada 2020.

Aditya mengatakan keputusan membuka layanan sendiri muncul setelah dirinya mengundurkan diri dari pekerjaan di Bandung. Saat itu, pandemi membatasi aktivitas masyarakat dan membuat banyak orang tua enggan membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Menurut Aditya, kondisi tersebut justru menjadi peluang untuk menghadirkan layanan terapi yang lebih aman. Ia kemudian menawarkan terapi okupasi dengan sistem kunjungan langsung ke rumah pasien.

"Jadi saya buka layanan sendiri. Dari awal layanan saya sudah mengatasnamakan Therapedia dengan home visit door to door," ujarnya dalam program Muda Kreatif Berjaringan Pro 2 RRI Surabaya, Rabu, 10 Juni 2026.

Pada masa awal usaha, Aditya menjalankan seluruh layanan seorang diri. Ia bahkan harus menempuh perjalanan hingga Bangil untuk melayani kebutuhan terapi pasien.

Selain memberikan terapi, Aditya juga harus mengedukasi orang tua mengenai terapi okupasi. Profesi tersebut masih tergolong langka dan belum banyak dikenal masyarakat.

Terapi okupasi merupakan bagian dari rehabilitasi medik. Tujuannya membantu individu yang mengalami hambatan fisik, kognitif, maupun mental agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Dalam praktiknya, layanan Therapedia banyak menangani anak dengan hambatan tumbuh kembang. Fokus utama terapi adalah meningkatkan kemampuan sensoris, kemandirian, serta partisipasi sosial anak.

Aditya mengaku tantangan terbesar saat melakukan terapi di rumah pasien adalah menciptakan lingkungan yang aman. Ia harus menyesuaikan metode terapi dengan kondisi rumah dan karakter setiap anak.

Setiap kunjungan awal digunakan untuk melakukan observasi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi risiko dan menentukan strategi terapi yang tepat.

"Biasanya saya menganalisa ini nanti terapinya di mana, potensi risikonya di mana, dan karakter anaknya seperti apa," kata Aditya.

Setelah dua tahun menjalankan layanan keliling, Aditya membuka klinik pertama pada April 2022. Kesempatan tersebut hadir melalui kolaborasi dengan sebuah pusat layanan tumbuh kembang anak yang telah lebih dulu beroperasi.

Di klinik tersebut, Therapedia menghadirkan layanan terapi okupasi dengan pendekatan sensory integration. Metode ini menjadi salah satu layanan unggulan untuk anak yang mengalami hambatan tumbuh kembang.

Aditya menjelaskan tubuh manusia memiliki berbagai sensor untuk mengenali lingkungan sekitar. Pada anak dengan kondisi tertentu, kemampuan tersebut dapat terganggu sehingga memengaruhi interaksi sosial mereka.

Melalui terapi sensory integration, anak dilatih agar lebih mengenali tubuh dan lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, mereka dapat berinteraksi lebih baik dengan orang lain.

Ia mencontohkan kondisi tersebut sering ditemukan pada anak dengan autisme maupun attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Karena itu, terapi menjadi penting untuk membantu proses adaptasi mereka.

Dalam kesempatan itu, Aditya juga mengingatkan pentingnya membatasi penggunaan gawai pada anak usia dini. Menurutnya, paparan layar berlebihan dapat memengaruhi proses tumbuh kembang.

Ia menyebut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyarankan anak tidak mendapatkan screen time pada dua tahun pertama kehidupannya.

Perkembangan usaha tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah membangun identitas merek Therapedia yang semula sangat melekat pada sosok pendirinya.

"Banyak orang tua lebih mengenal saya sebagai Adit. Tantangan terbesar saya saat itu mengubah mindset menjadi Therapedia," ujarnya.

Selain persoalan branding, kebutuhan tenaga terapis juga menjadi tantangan tersendiri. Hal itu karena program studi terapi okupasi di Indonesia masih sangat terbatas.

Aditya menjelaskan saat ini pendidikan terapi okupasi hanya tersedia di dua perguruan tinggi. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan tenaga profesional cukup ketat.

Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia, Therapedia melakukan rekrutmen langsung hingga memberikan beasiswa pendidikan. Langkah itu dilakukan agar ketersediaan terapis tetap terjaga seiring pertumbuhan layanan.

Kini, dengan tiga cabang yang telah beroperasi, Aditya berharap semakin banyak anak mendapatkan akses terapi yang berkualitas. Ia juga membuka peluang bagi lulusan terapi okupasi untuk bergabung dan berkembang bersama Therapedia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....