Tekanan Ekonomi, Gizi Keluarga Jangan Dikorbankan
- 29 Agt 2026 18:39 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Jakarta – Tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat keluarga perlu lebih cermat mengatur pengeluaran, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, penghematan belanja makanan sebaiknya tidak dilakukan dengan mengorbankan kualitas gizi.
Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, mengatakan tekanan ekonomi dapat terlihat dari besarnya porsi pendapatan yang digunakan masyarakat untuk membeli makanan. Menurutnya, masyarakat dengan pendapatan lebih rendah cenderung mengalokasikan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan pangan.
Berdasarkan pembagian pendapatan dalam lima kuintil, kelompok dengan pendapatan terendah menghabiskan sekitar 63,2 persen pendapatannya untuk pangan. Sementara kelompok dengan pendapatan tertinggi sekitar 40,5 persen.
Kondisi tersebut membuat kenaikan harga pangan maupun kebutuhan hidup lainnya berpengaruh langsung terhadap pola konsumsi keluarga. Dewa merujuk data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dan 2025 yang menunjukkan adanya perubahan pola belanja masyarakat.
“Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja nonmakanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” kata Dewa dalam media talk di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Dewa, perubahan pola belanja juga terlihat dari meningkatnya pengeluaran untuk makanan jadi atau makanan yang dibeli di luar rumah. Di sisi lain, pengeluaran untuk sejumlah sumber protein justru cenderung tertekan.
Ketika anggaran rumah tangga terbatas, kata dia, persoalan yang muncul bukan selalu berkurangnya jumlah makanan atau kalori yang dikonsumsi. Kualitas gizi justru berpotensi menjadi bagian yang dikorbankan.
“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” ujarnya.
Dewa menilai anggapan bahwa protein hewani selalu mahal perlu diluruskan. Harga daging sapi memang relatif tinggi, tetapi masih ada pilihan lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang dapat menjadi sumber protein keluarga.
“Telur dan ikan bisa menjadi back bone untuk protein hewani keluarga sehari-hari. Susu juga bisa dikonsumsi untuk menambah mutu gizi makanan,” katanya.
Ia mengingatkan, pengurangan asupan gizi dalam jangka panjang, terutama pada anak-anak, dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi berpotensi memengaruhi kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas pada masa depan tidak optimal.
Ahli nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., mengatakan makanan sehat tidak selalu identik dengan bahan pangan mahal. Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai sumber pangan yang tersedia dan relatif terjangkau.
“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” kata Tara.
Tara mengatakan konsumsi pangan masyarakat Indonesia secara umum sudah mampu memenuhi kebutuhan kalori, tetapi masih didominasi sumber karbohidrat. Karena itu, variasi pangan menjadi penting agar kebutuhan zat gizi lain tetap terpenuhi.
Sumber karbohidrat juga tidak harus selalu berasal dari nasi putih. Berbagai pangan lokal seperti umbi-umbian dapat menjadi alternatif untuk membuat menu keluarga lebih beragam.
Untuk memenuhi kebutuhan protein, Tara menyebut tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati yang ekonomis. Namun, protein hewani juga tetap perlu diperhatikan karena lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
“Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap,” ujarnya.
Tara menyebut telur dan ikan sebagai pilihan protein hewani yang relatif terjangkau. Keberagaman jenis ikan di Indonesia juga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga sekaligus mendapatkan lemak tak jenuh yang baik bagi tubuh.
Untuk anak-anak, pemenuhan protein hewani menjadi semakin penting karena berkaitan dengan kebutuhan tumbuh kembang. Tara menyebut baru sekitar 43 persen balita usia 6–23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet atau pola MPASI dengan keberagaman makanan yang memenuhi kebutuhan gizi.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak hanya mengejar rasa kenyang ketika menentukan menu keluarga. Komposisi makanan perlu diperhatikan agar karbohidrat, protein, sayur dan buah tetap tersedia dalam pola makan sehari-hari.

Strategi tersebut dapat dilakukan dengan menyesuaikan pilihan bahan pangan dengan anggaran yang tersedia. Makanan yang dibeli di warung makan atau makanan olahan juga tetap dapat menjadi bagian dari menu, selama dilengkapi dengan sumber pangan lain yang memperbaiki keseimbangan gizinya.
“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tutur Tara.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak perlu merasa bersalah ketika sesekali membeli makanan di luar rumah. Yang lebih penting adalah menjaga keberagaman dan keseimbangan makanan secara keseluruhan.
Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting ketika masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran dengan kondisi ekonomi.
“Masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” kata Andrew, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Dengan demikian, menghemat anggaran belanja pangan tidak selalu berarti mengurangi kualitas makanan. Pemilihan sumber protein yang lebih terjangkau, pemanfaatan pangan lokal, serta pengaturan komposisi menu dapat menjadi cara keluarga menjaga asupan gizi tanpa harus mengeluarkan biaya berlebihan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....