Trauma Bullying Bayangi Kesehatan Mental Anak hingga Dewasa
- 22 Jul 2026 11:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Sidoarjo – Kesehatan mental anak menghadapi ancaman serius di tengah meningkatnya kasus cyberbullying dan paparan konten toksik di ruang digital. Perundungan yang terjadi sejak usia dini, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat meninggalkan trauma berkepanjangan hingga memengaruhi tumbuh kembang anak.
Karena itu, para ahli menilai kehadiran ruang aman menjadi kebutuhan mendesak agar anak dapat berkembang secara sehat, baik secara emosional maupun psikologis.
Psikolog Elizabeth Santosa mengatakan kesehatan mental anak harus menjadi perhatian bersama karena pengalaman buruk pada masa kanak-kanak dapat membekas hingga dewasa. Menurutnya, anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk menyampaikan perasaan, ketakutan, maupun pengalaman yang dialaminya tanpa khawatir dihakimi.
"Ruang aman sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Ketika anak merasa didengar, dihargai, dan diterima, mereka akan lebih mampu menghadapi tekanan maupun pengalaman yang menyakitkan. Sebaliknya, jika anak terus memendam luka sendirian, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa," ujar Elizabeth, Rabu 22 Juli 2026.
Ia menambahkan, orang tua dan guru tidak cukup hanya mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu membangun komunikasi yang hangat dan terbuka. Pendampingan yang dilakukan dengan empati dinilai lebih efektif dibandingkan pembatasan yang berlebihan. Dengan begitu, anak memiliki keberanian untuk bercerita ketika menjadi korban perundungan ataupun menemukan konten yang mengganggu kondisi psikologisnya.
Elizabeth menegaskan, membentengi anak di era digital bukan berarti membatasi seluruh akses terhadap teknologi. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan keluarga dan lingkungan sekolah sebagai ruang aman yang mendukung kesehatan mental anak, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan mengenali risiko, mengelola emosi, dan mencari pertolongan ketika menghadapi perundungan.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi fondasi penting agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental, percaya diri, dan tangguh menghadapi tantangan di era digital.
Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Shintya, penyintas perundungan yang menjadi korban bullying sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengaku ejekan dan perlakuan yang diterimanya saat itu masih terus diingat hingga sekarang dan meninggalkan trauma yang tidak mudah hilang.
"Saya masih ingat semua yang terjadi waktu SD. Sampai sekarang rasa traumanya masih ada. Luka itu memang tidak terlihat, tetapi dampaknya benar-benar membekas," kata Shintya.
Menurutnya, perundungan tidak pernah bisa dianggap sebagai candaan karena dampaknya dapat memengaruhi rasa percaya diri, kesehatan mental, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia berharap orang tua, guru, dan teman sebaya lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta berani menghentikan perundungan sejak dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....