Lazy Eye pada Anak: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya sejak Dini
- 27 Agt 2026 08:09 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pernah melihat anak yang tampak menggunakan salah satu matanya lebih dominan atau salah satu mata terlihat tidak bekerja sebagaimana mestinya? Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan lazy eye atau dalam istilah medis disebut amblyopia.
Lazy eye atau amblyopia adalah kondisi ketika kemampuan melihat pada salah satu mata berkembang tidak normal sejak masa kanak-kanak. Otak kemudian lebih mengandalkan mata yang memiliki penglihatan lebih baik dan secara bertahap mengabaikan informasi visual dari mata yang lebih lemah.
Mengutip dari website kemkes.go.id ambliopia atau mata malas merupakan gangguan penglihatan yang dapat terjadi pada salah satu maupun kedua mata. Kondisi tersebut terjadi karena perkembangan penglihatan tidak berlangsung secara normal pada masa awal kehidupan.
Melalui website kemkes.go.id juga ditegaskan bahwa istilah “mata malas” bukan berarti anak malas menggunakan matanya. “Anak dengan amblyopia bukanlah anak malas, tetapi tidak bisa mengontrol cara kerja matanya.”
Ada beberapa kondisi mata yang dapat menyebabkan ambliopia. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan beberapa di antaranya adalah:
Mata juling atau strabismus
Gangguan refraksi
Katarak
Selain itu, Kemenkes menyebutkan bahwa kelahiran prematur, riwayat keluarga dengan ambliopia atau katarak pada usia muda, serta gangguan tumbuh kembang termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko ambliopia pada anak.
Mata malas tidak selalu mudah dikenali hanya dengan melihat penampilan mata anak. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perilaku anak ketika melihat. Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
Anak sering menutup salah satu mata ketika melihat.
Anak sering memiringkan kepala.
Anak menyipitkan mata ketika melihat sesuatu.
Anak tampak kesulitan melihat benda pada jarak tertentu.
Salah satu mata terlihat tidak sejajar.
Anak membutuhkan usaha lebih besar untuk melihat.
Ambliopia mulai lebih sulit ditangani setelah anak berusia sekitar lima tahun. Risiko kehilangan penglihatan permanen juga dapat meningkat apabila terapi baru dilakukan pada usia yang lebih besar. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah perkembangan penglihatan anak berjalan dengan baik.
Penanganan ambliopia bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh gangguan refraksi seperti miopia, hipermetropia, atau astigmatisme, dokter dapat memberikan koreksi menggunakan kacamata.
Apabila penggunaan kacamata belum cukup untuk memperbaiki penglihatan, dokter dapat memberikan terapi tambahan. Salah satu terapi yang dikenal adalah menutup mata yang memiliki penglihatan lebih kuat menggunakan penutup mata atau eye patch. Tujuannya adalah mendorong otak untuk kembali menggunakan mata yang lebih lemah.
Kemenkes juga menyebutkan penggunaan obat tetes mata atropin pada mata yang lebih kuat sebagai salah satu pilihan terapi dalam kondisi tertentu. Terapi tentu harus dilakukan berdasarkan pemeriksaan dan anjuran dokter spesialis mata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....