Kenapa Atap Asbes Berbahaya Bagi Kesehatan Manusia?

  • 04 Agt 2026 15:39 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Atap asbes masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia karena harganya yang murah, bobotnya ringan, dan mudah dipasang . Namun, di balik kepraktisannya, bahan ini menyimpan ancaman serius bagi kesehatan penghuni rumah . Serat asbes yang sangat halus dapat terlepas ke udara dan terhirup tanpa disadari, lalu mengendap di paru-paru seumur hidup .

Bahaya utama asbes terletak pada sifatnya yang karsinogenik atau memicu kanker. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa semua jenis asbes, termasuk chrysotile yang masih digunakan di Indonesia, bersifat karsinogenik bagi manusia dan menyebabkan kanker paru-paru, laring, ovarium, serta mesothelioma (kanker pada selaput paru). Selain itu, paparan asbes juga bisa memicu asbestosis, yaitu penyakit paru kronis akibat jaringan parut di paru-paru yang menyebabkan sesak napas memburuk seiring waktu.

Melansir ayosehat.kemkes.go.id, tidak ada batas aman untuk paparan asbes . Penyakit akibat asbes baru terdeteksi setelah 20 hingga 40 tahun sejak paparan pertama, membuatnya seperti "bom waktu kesehatan" yang sulit dideteksi dini. Akibatnya, banyak kasus sering salah diagnosis sebagai TBC atau penyakit paru lainnya sehingga tidak terlaporkan dengan benar.

Dampak asbes tidak hanya mengancam pekerja industri, tetapi juga masyarakat umum yang tinggal di rumah dengan atap asbes tua yang retak. Serat berbahaya dapat terlepas saat atap mengalami kerusakan, proses renovasi, atau bahkan hanya karena faktor cuaca dan penuaan material. Setiap tahun, sekitar 1.600 kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit akibat asbes, sementara secara global lebih dari 200.000 orang meninggal setiap tahun karena paparan asbes di tempat kerja.

Lebih dari 60 negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Brasil, telah melarang penggunaan asbes sepenuhnya dan beralih ke bahan pengganti yang lebih aman. Namun, Indonesia masih memperbolehkan penggunaan jenis chrysotile yang sama-sama mematikan, dan menjadi salah satu importir asbes terbesar di Asia Tenggara dengan volume sekitar 150.000 ton per tahun. Sekitar 13 persen rumah tangga Indonesia masih menggunakan atap asbes, terutama di wilayah perkotaan padat.

Pemerintah pun mulai bergerak dengan melarang penggunaan asbes di sejumlah daerah, seperti Pemerintah Kota Pangkalpinang yang akan melarang atap asbes secara bertahap. Presiden Prabowo Subianto juga menyerukan agar masyarakat tidak lagi menggunakan asbes karena risiko kesehatannya. Jika atap asbes di rumah Anda sudah tua, retak, atau menunjukkan tanda-tanda kerusakan, segera ganti dengan bahan yang lebih aman dan gunakan tenaga profesional untuk pembongkarannya. Kesehatan keluarga jauh lebih berharga daripada sekadar menghemat biaya atap rumah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....