Puskesmas Jagir Dorong Lingkungan Sekolah Bebas HIV
- 24 Jul 2026 04:36 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Puskesmas Jagir bersama seluruh sekolah di area Kecamatan Wonokromo Surabaya tengah menggalakkan sosialisasi terkait bahaya HIV di lingkungan sekolah selama tahun 2026 ini. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah preventif pada siswa terkait bahaya dan dampak negatif dari HIV serta mencegah anak-anak terjerumus dalam pergaulan yang kurang baik yang berdampak buruk bagi kesehatan.
Kepala Puskesmas Jagir dr. Dessy Jumiaty Setia saat diwawancarai RRI Surabaya Kamis, 23 Juli 2026 mengatakan edukasi terkait bahaya HIV tersebut masuk dalam program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang dimana tidak hanya soal HIV saja, namun juga tentang penyakit lainnya. “Kami punya program untuk mensosialisasikan tentang kesehatan di sekolah, namanya program UKS. Jadi tidak hanya kegiatan tentang HIV saja, tetapi semua masalah kesehatan yang memang dibutuhkan untuk menambah pengetahuan anak-anak sekolah,” ujar Dessy.
Ia menambahkan peran untuk edukasi hal tersebut tidak hanya menjadi tugas tenaga kesehatan semata. Namun kontribusi dari keluarga, masyarakat, orang tua, guru, juga berdampak untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan kepada anak.
“Petugas kesehatan, keluarga, masyarakat, orang tua, guru, kita harus memberikan kenyamanan pada anak, perlindungan kepada anak. Dengan memberikan pengetahuan pada mereka juga, supaya mereka tahu, mereka tidak ikut kenakalan remaja yang menjadi awal mula terjadinya kasus HIV,” ujarnya.
Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, harapan besar dari edukasi program UKS tersebut yakni untuk memberikan pengetahuan sejak dini sehingga mampu menciptakan lingkungan yang kondusif di kawasan Kecamatan Wonokromo hingga Kota Surabaya. “Nah itulah karena awalnya dari situ, biasanya karena lingkungannya tidak kondusif, temannya tidak kondusif. Terus orang tua, guru, kemudian kita semua, masyarakat kita tidak aware sama mereka, akhirnya mereka terjerumus ke sana (HIV),” ucapnya.
Tidak hanya pemeriksaan HIV, program UKS juga mencakup edukasi kampanye kesehatan reproduksi, pencegahan penyalahgunaan NAPZA, gizi seimbang, pencegahan demam berdarah (DBD), dan bahaya merokok. Terlebih, program tersebur juga menghadirkan Pelatihan Dokter Kecil (tingkat SD) dan Kader Kesehatan Remaja (tingkat SMP/SMA) agar siswa dapat menjadi peer educator (pendidik sebaya) bagi teman-temannya.
Selain itu upaya Puskesmas untuk mencegah HIV di sekolah juga melalui tes skrining (VCT), yang dimana program ini sudah dilakukan dengan kegiatan penyuluhan edukatif saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) beberapa waktu lalu untuk membekali remaja dengan pemahaman pencegahan dan penghapusan stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
Edukasi tersebut bermula dari tingginya angka pengidap HIV di usia 0-18 tahun hingga mencapai 10.530 anak menurut data dari Kementerian Kesehatan RI hingga bulan Mei 2026. Angka tersebut merupakan kelompok usia sekolah menengah yang berkontribusi sekitar 4% dari total temuan kasus baru Orang Dengan HIV (ODHIV) setiap tahunnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....