Bahaya Gas CO jika Terhirup Manusia
- 02 Jun 2026 10:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Karbon monoksida atau CO adalah gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak bercita rasa, sehingga sangat berbahaya karena keberadaannya tidak dapat dideteksi oleh indra manusia. Gas ini dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna berbagai bahan bakar seperti bensin, kayu, gas, arang, serta minyak tanah. Sumber utama gas mematikan ini antara lain mesin kendaraan bermotor, kompor gas, pemanas ruangan, tungku kayu, hingga asap kebakaran hutan atau rumah.
Bahaya utama karbon monoksida bagi tubuh manusia terletak pada kemampuannya mengikat hemoglobin dalam sel darah merah. Ikatan CO dengan hemoglobin sekitar 200 hingga 250 kali lebih kuat dibandingkan ikatan oksigen, sehingga secara efektif menghalangi darah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami kekurangan oksigen yang dapat menyebabkan kerusakan organ vital dalam hitungan menit.
Gejala awal keracunan karbon monoksida sering kali samar dan mirip dengan flu biasa, sehingga banyak orang tidak menyadari bahaya yang mengancam. Gejala ringan meliputi sakit kepala, pusing, mual, muntah, kelelahan, serta kesulitan berkonsentrasi dan koordinasi gerak yang buruk. Karena pusing dan mengantuk merupakan bagian dari gejala, korban sering kali tidak sadar bahwa dirinya sedang dalam bahaya dan dapat tertidur hingga keracunan semakin parah.
| Baca juga: Dosen FKK ITS Ingatkan Bahaya Hantavirus |
Melansir ayosehat.kemkes.go.id, karbon monoksida merupakan salah satu polutan udara berbahaya yang perlu diwaspadai masyarakat. Pada tingkat keparahan sedang hingga berat, keracunan CO dapat menyebabkan kebingungan, nyeri dada, sesak napas, tekanan darah turun drastis, hingga kehilangan kesadaran dan koma. Kondisi ini sering kali berakibat fatal jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis.
Dampak jangka panjang juga perlu diwaspadai, karena beberapa minggu setelah pemulihan dari keracunan berat, korban dapat mengalami gejala neuropsikiatri yang tertunda. Gejala tersebut meliputi hilangnya memori, gangguan koordinasi, gangguan gerakan, depresi, hingga psikosis. Ibu hamil yang terpapar CO juga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) serta meningkatnya angka kematian perinatal.
Langkah pertolongan pertama yang paling krusial adalah segera memindahkan korban ke tempat dengan udara segar dan membuka semua ventilasi. Untuk kasus ringan, menghirup udara segar biasanya cukup untuk memulihkan kondisi, namun untuk kasus sedang hingga berat, korban memerlukan oksigen konsentrasi tinggi melalui masker wajah. Dalam situasi darurat seperti korban tidak sadar atau sulit bernapas, segera hubungi layanan gawat darurat.
Pencegahan merupakan langkah terbaik karena pengobatan untuk keracunan CO bersifat terbatas. Pasang detektor karbon monoksida di rumah, terutama di dekat area tidur, karena alat ini dapat memberikan peringatan dini sebelum kadar CO mencapai level berbahaya.
Pastikan semua peralatan pembakaran seperti kompor, tungku, dan pemanas air terpasang dengan benar serta memiliki ventilasi yang memadai ke luar ruangan. Jangan pernah menyalakan mesin mobil atau generator di dalam garasi tertutup, meskipun pintu garasi terbuka, karena gas CO dapat menyebar dengan cepat ke area hunian.
Masyarakat juga disarankan untuk tidak menggunakan kompor arang atau barbekyu di dalam ruangan, termasuk di dalam tenda atau area berkemah tertutup. Lakukan inspeksi rutin pada tungku dan sistem pembuangan untuk memastikan tidak ada kebocoran atau retakan pada pipa ventilasi.
Jika beberapa anggota keluarga dalam satu rumah mengalami gejala mirip flu secara bersamaan, terutama saat peralatan pemanas sedang digunakan, segera curigai adanya paparan CO dan evakuasi rumah. Kewaspadaan dan langkah pencegahan sederhana dapat menyelamatkan nyawa Anda dan keluarga dari ancaman silent killer yang mematikan ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....