Dosen FK Ubaya Paparkan Penyebaran Varian Hantavirus Mematikan

  • 12 Mei 2026 16:46 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius dan dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Kasus serupa juga ditemukan di Indonesia.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya), dr. Risma Ikawaty, Selasa 12 Mei 2026 menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi tingkat penyebaran virus tersebut. Penularan Hantavirus dari manusia ke manusia hanya terjadi pada varian Andes.

Varian ini mampu bereplikasi di saluran pernapasan manusia sehingga memungkinkan terjadinya penularan sekunder antarmanusia. Sementara itu, varian lain seperti Hantavirus Seoul, Sin Nombre, dan Hantaan masih terbatas pada penularan dari hewan ke manusia.

“Faktor yang memengaruhi tingkat penyebarannya adalah spesies tikus pembawa virus atau reservoir. Misalnya di Indonesia, Hantavirus varian Seoul dibawa oleh tikus rumah spesies Rattus rattus dan Rattus norvegicus,” ujar dr. Risma.

Ia menambahkan, varian Andes dibawa oleh tikus spesies Oligoryzomys longicaudatus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat 15 spesies tikus di Indonesia yang telah terkonfirmasi sebagai reservoir Hantavirus.

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan faktor risiko penularan kepada manusia, terutama di wilayah dengan populasi tikus tinggi dan sanitasi yang kurang baik. Selain spesies tikus, faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan kepadatan tikus di suatu daerah juga memengaruhi tingkat penyebaran virus. Dr. Risma menjelaskan bahwa perubahan iklim dan urbanisasi membuat tikus semakin aktif berkembang biak sehingga peluang penularan menjadi lebih besar.

“Intinya, semakin banyak tikus dan semakin seringnya kontak dengan manusia, berarti semakin besar peluang penyebaran virus,” kata Wakil Dekan I FK Ubaya tersebut.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian populasi tikus, menjaga sanitasi lingkungan, serta meningkatkan kemampuan diagnosis cepat di fasilitas kesehatan. Dr. Risma mengimbau masyarakat segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, sesak napas, mual, dan gangguan ginjal setelah kontak dengan tikus atau lingkungan berisiko.

Ia menegaskan, penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui udara yang terkontaminasi kotoran, urin, atau air liur tikus yang mengering dan terhirup manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....