Anak Muda Kini Jadikan Internet “Dokter Pertama”

  • 17 Mei 2026 14:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kemudahan akses informasi digital membuat banyak anak muda kini terbiasa mencari tahu gejala penyakit sendiri melalui internet sebelum memutuskan pergi ke dokter atau fasilitas kesehatan.

Fenomena tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan Health Collaborative Center. Penelitian itu menunjukkan hampir 60 persen anak muda berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan self-diagnosis atau swadiagnosis saat mengalami keluhan kesehatan.

Penelitian yang dilakukan pada Maret hingga Mei 2026 tersebut melibatkan 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Hasil studi menyebut internet, media sosial, hingga mesin pencari berbasis kecerdasan buatan kini menjadi rujukan awal banyak anak muda sebelum datang ke layanan kesehatan.

“Internet, media sosial, dan mesin pencari digital menjadi sumber informasi kesehatan pertama bagi sebagian responden,” demikian hasil studi Health Collaborative Center.

Penelitian tersebut juga menemukan sebagian responden memilih mencari informasi kesehatan secara mandiri karena dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses dibanding harus datang langsung ke fasilitas kesehatan.

Fenomena self-diagnosis ternyata bukan hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah penelitian internasional juga menunjukkan meningkatnya kebiasaan mencari informasi kesehatan melalui internet, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.

Penelitian dalam Journal of Media and Communication Science tahun 2024 menyebut internet memberi kemudahan bagi remaja untuk mencari informasi kesehatan, mulai dari gejala penyakit hingga rekomendasi pengobatan.

Namun penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa informasi kesehatan yang tidak berasal dari sumber terpercaya dapat memicu kesalahan memahami kondisi tubuh dan risiko salah penanganan.

Sementara itu, penelitian lain terhadap mahasiswa di Indonesia menemukan perilaku self-diagnosis berkaitan dengan tingginya paparan informasi kesehatan digital dan media sosial.

Meski memudahkan akses informasi, para ahli mengingatkan bahwa diagnosis penyakit tetap perlu dilakukan tenaga medis profesional. Informasi kesehatan dari internet sebaiknya dijadikan referensi awal, bukan pengganti pemeriksaan langsung oleh dokter.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....