Hantavirus Merebak, Epidemiologi UNAIR Ingatkan Bahayanya

  • 08 Mei 2026 19:50 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kemunculan dugaan klaster hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menarik perhatian dunia, salah satunya dari Pakar Epidemiologi FKM Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan kesehatan global terkait penyakit zoonosis. Mobilitas manusia dinilai meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas wilayah.

Laura Navika Yamani, menjelaskan hantavirus tidak muncul mendadak. Ia menilai paparan kemungkinan terjadi sebelum perjalanan berlangsung.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu,” kata Laura., Jumat, 8 Mei 2026. “Kasus baru bisa muncul saat individu sudah berpindah lokasi.”

Laura mengatakan hantavirus menular melalui paparan urin, feses, atau air liur hewan pengerat. Penularan dapat terjadi lewat inhalasi partikel yang terkontaminasi.

Ia menegaskan sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Namun, beberapa strain tertentu tetap memiliki kemampuan penularan terbatas.

“Investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap penting dilakukan,” ujarnya. “Langkah itu memastikan pola penularan yang sebenarnya terjadi.”

Laura juga menyoroti pengaruh perubahan lingkungan terhadap penyebaran penyakit zoonosis. Perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan meningkatkan risiko paparan manusia.

“Ekowisata dan aktivitas manusia di wilayah baru memperbesar risiko zoonosis,” kata Laura. “Kontak dengan reservoir penyakit menjadi semakin terbuka.”

Dari sisi klinis, hantavirus memiliki gejala awal yang tidak spesifik. Gejala meliputi demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal.

Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia berat dan Acute Respiratory Distress Syndrome. Pada fase berat, pasien membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.

Laura menyebut bentuk berat infeksi hantavirus memiliki fatalitas tinggi. Kondisi itu dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome.

“Fatalitas HPS dapat mencapai 30 hingga 50 persen,” ucap Laura. “Penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien.”

Laura menegaskan pentingnya deteksi dini dan penguatan surveilans kesehatan. Ia juga mendorong penerapan pendekatan One Health.

Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga itu menilai sanitasi dan komunikasi risiko harus diperkuat. Kesiapsiagaan sistem kesehatan diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....