Konsumsi Makanan Bersantan tanpa Khawatir

  • 26 Mar 2026 11:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Momen Lebaran bukan hanya saling bertemu dengan sanak saudara saja, namun rasanya tidak lengkap apabila tidak ada sajian makanan khas Lebaran. Seperti yang sering ditemui di masyarakat, hidangan makanan dalam momen Lebaran biasanya tidak jauh dari opor ayam, rendang, dan lontong sayur yang sama-sama diolah dengan santan kelapa. Namun, di balik kenikmatannya, santan sering dianggap sebagai pemicu kolesterol tinggi.

Secara nutrisi, santan mengandung lemak yang cukup tinggi, terutama lemak jenuh. Namun, berbeda dari lemak jenuh pada umumnya, santan kaya akan medium-chain triglycerides (MCT), yaitu jenis lemak yang lebih mudah dicerna dan cepat diubah menjadi energi oleh tubuh. Menurut ulasan dalam medicalnewstoday.com (2024), MCT dalam santan dapat membantu meningkatkan energi dan memberikan rasa kenyang lebih lama.

Penelitian lain yang dipublikasikan oleh Susan Hewlings dalam jurnal ilmiah oleh Central Michigan University (2020) pada www.mdpi.com menekankan bahwa lemak dalam kelapa, termasuk santan, memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lemak jenuh rantai panjang. Para peneliti menyimpulkan bahwa “asam lemak rantai menengah dalam kelapa diserap dan dimetabolisme secara berbeda,” serta dapat memberikan efek metabolik yang lebih menguntungkan dibandingkan lemak jenuh lainnya.

Selain sebagai sumber energi, santan juga mengandung asam laurat yang memiliki potensi manfaat kesehatan. Mengutip dari artikel www.healthline.com berjudul Coconut Milk: Health Benefits and Uses (2018), asam laurat dalam santan dapat memiliki efek antimikroba serta membantu melawan bakteri dan virus tertentu. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa sebagian besar bukti ini masih berasal dari studi laboratorium dan hewan, sehingga diperlukan penelitian lanjutan pada manusia.

Masih dalam artikel tersebut, meski memiliki manfaat, konsumsi santan tetap perlu dibatasi. Para ahli gizi internasional menekankan bahwa santan tinggi kalori dan lemak, sehingga konsumsi berlebihan dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan. Bahkan, dalam beberapa penelitian, konsumsi lemak jenuh berlebih dapat memengaruhi kadar kolesterol, termasuk meningkatkan LDL atau “kolesterol jahat”, meskipun dalam beberapa kasus juga diikuti peningkatan HDL.

Dalam konteks ini, para peneliti menegaskan pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan, bukan hanya satu jenis makanan. Studi oleh Susan Hewlings dalam jurnal ilmiah oleh Central Michigan University (2020) yang diterbitkan pada www.mdpi.comtahun 2020 menyarankan bahwa “rekomendasi diet sebaiknya berfokus pada pola makan dan gaya hidup, bukan hanya pada satu nutrisi saja.” Artinya, santan tidak perlu dihindari sepenuhnya, tetapi harus dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Cara pengolahan juga menjadi faktor penting. Penelitian dalam jurnal Food Chemistry (2024) yang diterbitkan oleh www.sciencedirect.com menunjukkan bahwa kandungan lemak dalam santan memengaruhi sifat pencernaan dan stabilitasnya. Santan dengan kadar lemak lebih rendah cenderung lebih mudah dicerna, sehingga bisa menjadi pilihan lebih sehat dalam pengolahan makanan sehari-hari.

Kesimpulannya, santan tetap aman dan bahkan bermanfaat jika dikonsumsi dengan bijak. Para ahli sepakat bahwa kunci utama bukan menghindari santan, melainkan mengatur jumlah dan frekuensinya. Dengan porsi yang tepat serta diimbangi pola makan sehat dan aktivitas fisik, masyarakat tetap dapat menikmati hidangan bersantan tanpa perlu khawatir berlebihan terhadap kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....