Tren Daging Olahan: antara Kenyamanan dan Risiko Kesehatan
- 28 Feb 2026 22:58 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Di tengah kesibukan masyarakat modern, makanan praktis seperti sosis, nugget, dan kornet semakin populer sebagai pilihan konsumsi harian. Kemudahan penyajian serta cita rasa yang lezat membuat produk daging olahan ini menjadi favorit, mulai dari bekal anak sekolah hingga menu sarapan cepat di rumah.
Namun, di balik popularitas tersebut, muncul kekhawatiran mengenai dampak kesehatannya. Dokter Yuliana dalam wawancara bersama Pro 1 pada Sabtu, 28 Februari 2026, menyoroti meningkatnya konsumsi makanan instan yang berbanding lurus dengan risiko penyakit tidak menular.
Menurut dr. Yuliana, masyarakat saat ini menghadapi dua kecenderungan sekaligus, yakni kebutuhan akan kepraktisan dan meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat. “Konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food/UPF) secara terus-menerus bisa meningkatkan risiko kanker, apalagi jika sudah jadi kebiasaan sejak kecil,” ucapnya.
Peringatan tersebut disampaikan dalam rangka memperingati World Cancer Day 2026. Ia menjelaskan bahwa produk seperti sosis, nugget, dan kornet telah melalui proses industri panjang yang mengubah struktur asli daging serta menambahkan berbagai zat tambahan.
Menurutnya, produk daging olahan kerap mengandung pengawet, nitrat, dan bahan aditif lain yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. Salah satu risiko serius yang diwaspadai adalah kanker kolorektal atau kanker usus besar.
Dr. Yuliana memaparkan data penelitian internasional yang menunjukkan hubungan kuat antara daging olahan dan kanker. “Konsumsi 50 gram daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko kanker usus besar hingga 18%,” katanya, merujuk pada klasifikasi International Agency for Research on Cancer (IARC) yang menempatkan daging olahan sebagai karsinogen kelompok 1.
| Baca juga: Cek Kesiapan Tubuh sebelum Olahraga |
Selain kanker, konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan juga dapat memicu hipertensi akibat kandungan natrium yang tinggi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Ia menambahkan bahwa daging olahan termasuk makanan tinggi kalori namun rendah serat dan vitamin, sehingga dapat memicu obesitas, gangguan metabolik, hingga masalah ginjal dan pencernaan dalam jangka panjang.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Yuliana menyarankan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih makanan. “Sebagai alternatif, pilihlah bahan makanan segar yang minim pemrosesan untuk mengurangi asupan pengawet berbahaya,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar rutin membaca label komposisi makanan dan membatasi konsumsi produk instan demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....