Cek Kesiapan Tubuh sebelum Olahraga

  • 05 Jun 2026 14:38 WIB
  •  Surabaya

RrI.CO.ID, Surabaya - Tren olahraga di masyarakat seperti jogging, lari, padel, yoga, hingga pilates semakin meningkat seiring kesadaran untuk menjaga kesehatan. Namun, aktivitas fisik tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan tubuh agar manfaat olahraga dapat diperoleh secara optimal dan terhindar dari risiko cedera maupun gangguan kesehatan.

Guru Besar Ilmu Faal (Fisiologi) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Prof.Bambang Purwanto, mengingatkan masyarakat untuk melakukan evaluasi sederhana terhadap kondisi tubuh sebelum berolahraga.

Menurutnya, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kesiapan jantung yang dapat dipantau melalui denyut nadi saat bangun tidur.

"Yang paling mudah untuk dievaluasi setiap kali mau olahraga itu adalah kesiapan jantung. Cek dulu nadi saat bangun tidur. Kalau di atas 90 kali per menit, sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat karena tubuh tidak siap," ujarnya saat diwawancarai RRI Surabaya, Jumat, 5Juni 2026.

Selain jantung, kondisi sistem gerak seperti otot dan tulang juga perlu menjadi perhatian. Tubuh yang terasa kaku, nyeri, atau berat saat bangun tidur dapat menjadi sinyal bahwa tubuh memerlukan pemulihan sebelum melakukan aktivitas fisik yang lebih berat. "Kalau sudah terasa kaku atau nyeri, itu harus dievaluasi dulu sebelum olahraga. Setelah itu tetap perlu dilakukan pemanasan dan peregangan," katanya.

Prof.Bambang menambahkan, kesiapan gizi juga menjadi faktor penting yang sering diabaikan. Menurutnya, banyak orang hanya berfokus pada kecukupan kalori, padahal tubuh memerlukan keseimbangan zat gizi yang lebih lengkap untuk mendukung aktivitas fisik.

"Sering kali yang dipahami hanya kalori sudah cukup, maka dianggap siap olahraga. Padahal tidak cukup hanya menghitung kalori, karena tubuh membutuhkan keseimbangan zat gizi untuk menunjang aktivitas fisik," ucapnya.

Kesadaran masyarakat untuk berolahraga sejalan dengan rekomendasi World Health Organization yang menganjurkan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang sedikitnya 150 hingga 300 menit per minggu atau aktivitas fisik intensitas tinggi 75 hingga 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Prof. Bambang menegaskan, tujuan olahraga bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Karena itu, masyarakat perlu memastikan kesiapan jantung, kondisi otot dan tulang, serta kecukupan gizi sebelum memulai aktivitas fisik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....