Menuju Dua Garis Perluas Edukasi Pejuang Kesuburan

  • 07 Feb 2026 14:05 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Komunitas Menuju Dua Garis terus berupaya memperluas edukasi dan pendampingan bagi para pejuang dua garis di Indonesia.

Rosie, Founder of Menuju Dua Garis dan IVF Warrior mengatakan ide mendirikan Menuju Dua Garis muncul ketika ia merasa tidak memiliki teman berbagi dan kesulitan menemukan platform edukasi kesuburan yang mudah diakses.

“Komunitas ini saya dirikan saat saya menjalani IVF yang kedua. Waktu itu saya merasa sendiri, tidak ada teman, dan tidak ada platform yang menyediakan edukasi kesuburan,” ujar Rosie.

Awalnya, Rosie hanya membagikan pengalaman secara kasual melalui media sosial. Namun respons yang datang justru sangat besar dari mereka yang memiliki perjuangan serupa.

“Awalnya cuma sharing santai di Instagram. Ternyata banyak yang merasa relate, lalu saya kumpulkan dan akhirnya terbentuk komunitas Menuju Dua Garis,” katanya.

Sejak berdiri pada 2022, Menuju Dua Garis terus berkembang dan kini memasuki tahun keempat. Rosie menyebut seluruh kegiatan komunitas selalu digelar secara gratis sebagai bentuk komitmen untuk memperluas akses edukasi kesuburan.

“Kami ingin edukasi ini bisa menyeluruh, makanya semua event kami gratis,” ucapnya.

Tak hanya edukasi, Menuju Dua Garis juga memberikan dukungan nyata melalui program Fertility Bootcamp. Hingga kini, komunitas tersebut telah membagikan dua program IVF gratis bekerja sama dengan Klinik Sanford dan Klinik Morula, serta 12 prosedur inseminasi untuk pasangan yang membutuhkan.

“Selain IVF gratis, kami juga sudah membagikan 12 prosedur inseminasi untuk 12 pasangan. April nanti akan ada lagi Fertility Bootcamp dengan hadiah IVF gratis,” jelas Rosie.

Menurut Rosie, penerima program dipilih bukan berdasarkan kondisi ekonomi semata, melainkan kesiapan dan kesadaran terhadap kondisi kesuburan masing-masing. “Kami tidak mencari yang paling kasihan, tapi yang paling siap. Yang haus akan ilmu, yang aktif mencari tahu kondisi kesuburannya, dan mau belajar,” tegasnya.

Rosie juga menjelaskan, Menuju Dua Garis memiliki grup diskusi berbasis kasus infertilitas agar para anggota dapat saling berbagi pengalaman secara lebih relevan. “Kalau yang PCOS dikumpulkan dengan PCOS, yang masalah sperma dengan kasus sperma, jadi ngobrolnya lebih nyambung dan saling menguatkan,” tuturnya.

Selain itu, Menuju Dua Garis menyediakan artikel berbasis jurnal ilmiah melalui situs menuju2garis.id. Namun, Rosie menilai masih banyak pejuang dua garis yang cenderung pasif dalam mencari informasi.

"Banyak yang masih pasif karena merasa malu dan menganggap ini aib. Padahal kalau kita aktif mencari tahu, banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan,” katanya.

Rosie menekankan, infertilitas bukan semata-mata masalah perempuan. Ia menyebut faktor pria juga memiliki porsi besar dalam kasus sulit hamil.

“Infertilitas karena sperma itu sekitar 30–40 persen, sama besar dengan faktor perempuan. Tapi yang sering disalahkan justru perempuan,” ujarnya.

Ia pun mendorong pasangan yang telah lama menikah dan belum memiliki anak untuk melakukan analisis sperma sebagai langkah awal. "Analisa sperma itu pemeriksaan paling mudah dan murah. Ini seharusnya jadi langkah pertama bagi pasangan yang ingin hamil," kata Rosie.

Melalui Menuju Dua Garis, Rosie berharap para pejuang dua garis dapat lebih berdaya. Selain itu, juga memahami haknya sebagai pasien, dan mengambil keputusan yang tepat tanpa membuang waktu, tenaga, maupun biaya.

"Kami tidak menjual dokter dan tidak menerima komisi. Kami hanya membuka pintu agar teman-teman bisa mengenal dokter dan mengenal dirinya sendiri. Keputusan tetap ada di tangan mereka,” tegas Rosie.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....