Pasien Gagal Ginjal Bisa Cuci Darah di Rumah

  • 04 Feb 2026 14:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Penyakit gagal ginjal masih menjadi persoalan kesehatan serius karena berdampak langsung pada kualitas hidup penderitanya. Penurunan fungsi ginjal kerap berlangsung perlahan dan sering tidak disadari hingga memasuki tahap lanjut.

Pada kondisi lanjut, ginjal tidak lagi mampu membuang racun dan kelebihan cairan secara normal. Pasien pun harus menjalani terapi pengganti ginjal seumur hidup atau hingga memperoleh transplantasi.

Dalam program Moment Inspirasi Pro 1 RRI Surabaya, Rabu, 4 Februari 2026, Kepala Instalasi Hemodialisis National Hospital Surabaya, Dokter Yuswanto Setyawan, menjelaskan bahwa penyebab gagal ginjal perlu dibedakan sejak awal.

“Untuk pasien gagal ginjal ini harus dibedakan apa penyebabnya. Apakah gagal ginjal akut atau gagal ginjal kronis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba dan masih berpotensi disembuhkan jika penyebabnya segera ditangani. Sementara gagal ginjal kronis berlangsung perlahan dan bersifat permanen.

Selama ini, sebagian besar pasien menjalani hemodialisis di rumah sakit atau klinik. Ketergantungan pada fasilitas kesehatan membuat pasien harus menyesuaikan aktivitas, pekerjaan, hingga kehidupan keluarga.

Masalah lain yang kerap muncul adalah kelelahan pascaprosedur, perubahan tekanan darah, serta risiko infeksi. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas hidup pasien.

“Karena beban terbesar pasien bukan hanya dari sisi medis saja, tetapi juga psikologis dan sosial,” jelasnya.

Sebagai alternatif, kini mulai diperkenalkan metode hemodialisis mandiri di rumah bagi pasien tertentu. Metode ini memberikan fleksibilitas waktu dan kenyamanan, meski tetap memerlukan pengawasan medis ketat.

“Saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi, cuci darah atau hemodialisis bisa dilakukan secara mandiri di rumah,” katanya.

Namun demikian, metode ini menuntut disiplin tinggi, kebersihan prosedur, serta kesiapan pasien dan keluarga. Pasien juga harus menjalani pelatihan sebelum melakukan terapi mandiri.

Dokter Yuswanto menegaskan, banyak kasus gagal ginjal baru terdeteksi saat sudah stadium lanjut. Padahal, pengendalian tekanan darah, diabetes, dan pemeriksaan fungsi ginjal berkala dapat memperlambat kerusakan sejak dini.

“Masalah utamanya adalah kurangnya kesadaran. Ginjal rusak itu tidak langsung terasa,” tegasnya.

Dengan meningkatnya edukasi dan pilihan terapi, pasien diharapkan mendapatkan penanganan yang sesuai kondisi. Gagal ginjal bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga menyangkut kualitas hidup yang memerlukan perhatian bersama.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....