Gubes ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan Lapangan Kerja

  • 06 Okt 2026 01:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Guru Besar ITPLN Prof Syamsir Abduh menilai target 5,52 juta lapangan kerja membutuhkan strategi industri terintegrasi. Target tersebut berkaitan dengan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp).

Menurutnya, pengembangan PLTS tidak boleh hanya berfokus pada pembangkit berskala besar. “Pemerintah harus memperluas program PLTS 100 GWp dengan pemanfaatan PLTS atap dan sistem tenaga surya terdistribusi,” ujar Syamsir, Senin, 5 Oktober 2026.

Pemanfaatan PLTS perlu diperluas ke sektor perumahan, komersial, industri, bangunan publik, hingga kawasan pedesaan. Perluasan tersebut dinilai membuka peluang kerja bagi perusahaan pemasangan dan pemeliharaan lokal.

“Keterlibatan pelaku usaha lokal juga penting agar manfaat ekonomi pembangunan PLTS dapat dirasakan masyarakat di sekitar lokasi proyek,” katanya. Syamsir mengatakan tenaga kerja yang terlibat harus memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai standar keselamatan.

Menurutnya, penciptaan jutaan lapangan kerja membutuhkan ekosistem industri tenaga surya dari hulu hingga hilir. “Penciptaan jutaan lapangan kerja dari program PLTS 100 GWp membutuhkan perencanaan yang terintegrasi,” ucapnya.

Syamsir mengusulkan enam pilar ketenagakerjaan untuk mendukung target tersebut. Pilar itu mencakup manufaktur, proyek besar, PLTS atap, O&M, keterampilan, dan rantai pasok.

Pertama, Indonesia perlu memperkuat manufaktur tenaga surya, termasuk produksi modul surya, inverter, kabel, transformator, dan perangkat pendukung. Pengembangan industri membutuhkan insentif perpajakan, kawasan industri, dan kepastian permintaan.

Kedua, percepatan proyek PLTS berskala besar membutuhkan tenaga kerja bidang rekayasa, konstruksi, instalasi, komisioning, dan manajemen proyek. Standarisasi pengadaan dan kejelasan alur proyek dinilai penting mempercepat pembangunan pembangkit.

Ketiga, perluasan PLTS atap dapat membuka kesempatan kerja bagi teknisi, perusahaan instalasi, dan penyedia pemeliharaan daerah. Pemanfaatannya mencakup rumah tangga, gedung komersial, industri, dan fasilitas publik.

Keempat, pengembangan operasi dan pemeliharaan menjadi kebutuhan setelah pembangkit selesai dibangun. Indonesia perlu mengembangkan pusat O&M regional serta menyiapkan teknisi berkompetensi.

Teknisi tersebut perlu menguasai inspeksi panel, pembersihan modul, pemeliharaan inverter, pengujian kelistrikan, hingga pemantauan pembangkit. Keahlian tersebut diperlukan untuk menjaga kinerja pembangkit tetap optimal.

Kelima, pengembangan keterampilan sumber daya manusia perlu melibatkan perguruan tinggi, politeknik, SMK, industri, dan lembaga sertifikasi. Materinya mencakup desain fotovoltaik, keselamatan kelistrikan, integrasi jaringan, BESS, SCADA, dan manajemen energi digital.

Keenam, penguatan rantai pasok dalam negeri harus melibatkan industri pendukung dan usaha kecil menengah. Pemasok lokal dapat menyediakan struktur baja, kabel, peralatan listrik, baterai, perangkat lunak, hingga layanan rekayasa.

Menurut Syamsir, keterlibatan tersebut membuat manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Pelaku usaha di daerah juga berpeluang memperoleh manfaat dari pembangunan PLTS.

Syamsir menegaskan keenam pilar tersebut harus dijalankan secara bersamaan. Langkah itu diperlukan agar target 5,52 juta lapangan kerja tidak berhenti sebagai proyeksi..

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....