Gubes UNAIR: Hasil PISA 2025, Sains dan Literasi Indonesia Meningkat

  • 28 Sep 2026 17:39 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil asesmen PISA 2025, menunjukkan skor Indonesia meningkat dalam sains dan literasi membaca, tetapi menurun dalam numerasi. Guru Besar Sosiologi Pendidikan FISIP UNAIR Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi menyebut, skor PISA perlu dimaknai melalui perspektif sosiologi pendidikan.

Prof Tuti mengatakan peningkatan skor menunjukkan adanya perbaikan iklim belajar di sekolah. Ia berharap peningkatan tersebut merupakan hasil kerja keras pengajar, bukan sekadar kebetulan.

Namun, posisi Indonesia yang masih rendah secara global menunjukkan kualitas pendidikan masih menghadapi berbagai tantangan. Perubahan sosial dan teknologi juga memengaruhi motivasi siswa dalam belajar secara serius.

“Menurunnya skor PISA dapat dibaca sebagai stagnasi kualitas pendidikan Indonesia selama bertahun-tahun,” ujar Prof Tuti, Minggu, 27 September 2026. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan ketidaksesuaian kebijakan pendidikan.

Ia menyebut kemajuan teknologi komunikasi memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran siswa. Namun, media digital dan kecerdasan buatan juga dapat memengaruhi keseriusan belajar.

“Teknologi memudahkan proses belajar, tetapi juga dapat menurunkan semangat siswa belajar serius dan mendalam,” katanya. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi penguatan proses pembelajaran.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, skor PISA merefleksikan kemampuan siswa sekaligus kualitas sistem pendidikan. Prof Tuti menilai berbagai kebijakan pendidikan perlu terintegrasi secara lebih baik.

“Negara atau pemerintah tidak memiliki blue print pendidikan Indonesia dalam jangka panjang dengan target capaian terukur,” ucapnya. Menurutnya, target pendidikan perlu melampaui berbagai kepentingan politik praktis.

Prof Tuti juga menyoroti lingkungan sosial sebagai bagian penting dalam mendukung kualitas pembelajaran siswa. Dukungan tersebut mencakup keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.

“Keluarga berperan memberikan dukungan belajar kepada anak,” katanya. Iklim sekolah juga perlu mendorong siswa berpikir kritis, inovatif, dan kreatif.

Menurut Prof Tuti, proses tersebut dapat dilakukan melalui kurikulum formal maupun kurikulum tersembunyi. Tujuannya membentuk siswa yang memiliki kualitas dan kompetensi sesuai kebutuhan zaman.

Prof Tuti menyebut OECD telah memberikan arahan melalui penguatan proses pembelajaran dan kompetensi relevan. Pemerataan akses, fasilitas, dan sarana pembelajaran juga perlu menjadi perhatian.

“Proses pembelajaran seharusnya berfokus pada kemampuan berpikir kritis, literasi keuangan digital, dan pemecahan masalah kolaboratif,” ujarnya. Menurutnya, kompetensi tersebut penting menghadapi perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....