TEP UNAIR Kembangkan Peternakan Berbasis Pelepah Sawit

  • 14 Sep 2026 20:07 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) terus mengembangkan program peternakan di Distrik Prafi, Manokwari. Program bertajuk Sapi Sehat, Limbah Sawit Bernilai, Peternak Berdaya tersebut memanfaatkan pelepah sawit sebagai pakan alternatif.

Perkembangan program dibahas dalam forum koordinasi dan diskusi multipihak di Aula BRMP Papua Barat. Forum tersebut mempertemukan BRMP Papua Barat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, serta BPP Prafi untuk memperkuat peternakan lokal.

Ketua Tim TEP UNAIR Prof Dr Erma Safitri drh MSi mengatakan, pendampingan dilakukan melalui pendekatan learning by doing. “Program dilakukan melalui penyuluhan, pendampingan lapangan, dan praktik langsung agar peternak memahami inovasi,” katanya.

Menurut Prof Erma, program tidak hanya berfokus meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat sistem usaha ternak. “Penguatan mencakup pencatatan ternak, pendampingan peternak potensial, serta pengembangan distribusi hasil ternak,” ujarnya.

Forum tersebut juga mengidentifikasi tantangan berupa masih dominannya sistem penggembalaan bebas di kawasan Prafi. Kondisi itu menyulitkan pengelolaan dan pemantauan ternak, termasuk saat peternak menerapkan program penggemukan sapi.

Karena itu, tim mendorong praktik pembuatan silase agar peternak memahami teknologi pakan tersebut secara langsung. “Pengembangan silase tidak sekadar melihat proses pembuatannya, tetapi juga kandungan nutrisi dan kebutuhan mineral,” kata Prof Erma.

Tim juga mempertimbangkan biaya produksi dan efektivitas silase dalam mendukung penggemukan sapi secara berkelanjutan. Sebagai tindak lanjut, TEP UNAIR telah menjalankan Posyandu Ternak Keliling di kawasan SP3 dan SP4.

Kegiatan tersebut meliputi pendataan ternak, pemberian obat cacing, suplementasi vitamin, serta penyusunan basis data kesehatan ternak. “Pendataan penting karena kondisi setiap ternak perlu dipantau secara berkala,” kata Prof Erma.

Dengan basis data teratur, peternak dan pendamping dapat memantau kesehatan serta menentukan pengelolaan ternak secara tepat. Tim juga merencanakan pelaksanaan Posyandu Ternak Keliling berikutnya di kawasan SP1 dan SP2.

Prof Erma menilai kolaborasi pemerintah daerah, penyuluh, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci pengembangan model tersebut. “Integrasi sapi dan kelapa sawit berpotensi menjadi model peternakan berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....