METI dan ITPLN Perkuat SDM Energi Terbarukan Nasional

  • 08 Sep 2026 21:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menggandeng Institut Teknologi PLN (ITPLN) memperkuat SDM energi terbarukan nasional. Kerja sama ditandai penandatanganan nota kesepahaman dalam The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jakarta.

Wakil Rektor I Bidang Akademik ITPLN, Prof. Susy Fatena Rostiyanti, mengatakan kerja sama memperkuat pendidikan dan riset. Kolaborasi juga diarahkan untuk pengembangan sumber daya manusia di sektor energi terbarukan.

"Kerja sama ini menjadi jembatan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri," ujar Susy, Selasa, 8 September 2026. Menurutnya, kemitraan tersebut membuat kompetensi mahasiswa dan lulusan semakin relevan dengan perkembangan sektor energi.

Ruang lingkup kerja sama mencakup pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, serta pengembangan kurikulum berbasis Teaching Factory. Kemitraan itu juga membuka peluang magang dan rekrutmen alumni ITPLN sesuai kebutuhan anggota METI.

Mahasiswa berkesempatan mengikuti kunjungan industri untuk memperoleh pengalaman langsung mengenai teknologi energi terbarukan. Susy menegaskan implementasi MoU diarahkan pada program yang memberikan dampak terukur bagi seluruh pihak.

Kerja sama pendidikan dan industri, menurutnya, harus menghasilkan kompetensi, riset, serta inovasi. Plt. Ketua Umum METI, Norman Ginting, menilai perguruan tinggi penting dalam pengembangan energi terbarukan nasional.

Sektor tersebut membutuhkan SDM yang memahami teknologi sekaligus kebutuhan industri. "Kami ingin kerja sama ini menghasilkan program konkret untuk menyiapkan sumber daya manusia," kata Norman.

Kolaborasi juga mencakup upskilling, pendidikan lanjut, praktisi mengajar, seminar, workshop, pelatihan, dan uji kompetensi. Kedua pihak juga dapat memanfaatkan tenaga ahli untuk pendampingan, konsultansi, serta kajian teknis bidang engineering.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot Tanjung, menekankan pentingnya ekosistem EBT terintegrasi. Menurutnya, Indonesia harus mengurangi ketergantungan terhadap impor teknologi energi terbarukan.

Integrasi ekosistem mencakup bahan baku, manufaktur, teknologi, riset, hingga pengembangan sumber daya manusia. Indonesia memiliki bauksit, nikel, silika, dan tembaga, tetapi sebagian masih diekspor sebagai bahan mentah.

Sementara itu, teknologi sel surya dan baterai masih banyak diproduksi di luar negeri. "Teknologi itu harus kita upayakan dan dalami demi kedaulatan energi nasional," kata Yuliot.

Ia mengatakan penguasaan teknologi harus didorong melalui riset, inovasi, dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Pembangunan ekosistem EBT juga harus memperkuat pelaku usaha nasional dari hulu hingga hilir.

Penandatanganan MoU ITPLN-METI diharapkan memperkuat sinergi perguruan tinggi dan industri energi terbarukan. Kolaborasi tersebut diharapkan menyiapkan SDM yang mampu menjawab kebutuhan transisi energi Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....