Optimalkan Produksi Listrik, Mahasiswa ITPLN Ciptakan Inovasi Agrivoltaik

  • 15 Agt 2026 03:20 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN) berhasil menciptakan inovasi agrivoltaik berbasis kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan produksi listrik tenaga surya. Tim diketuai Andi Iftitah Baitul Qiswa, mahasiswa S1 Teknik Elektro ITPLN, dan anggotanya Umar Wanto, Tara Syauqina, Cynthia Calista Paramitha, dan Elma Erista Sinambela.

"Gagasan inovasi ini menggabungkan pemanfaatan satu lahan untuk dua kebutuhan sekaligus," ujar Umar Wanto, Jumat, 14 Agustus 2026. Menurutnya, sistem tersebut menghasilkan listrik sekaligus mendukung produktivitas pertanian.

Sistem dikembangkan melalui Application-Aware Adaptive Control Strategies untuk mengatur pergerakan smart solar tracker. Pengaturan tersebut menggunakan data cuaca real-time dan algoritma Machine Learning.

Gagasan itu berangkat dari persoalan perebutan lahan produktif untuk kebutuhan energi dan pangan. Panel surya statis dapat menciptakan bayangan dan mengurangi intensitas cahaya bagi tanaman.

Umar bersama dosen pembimbing Hasna Satya Dini mencoba mengubah persoalan tersebut menjadi peluang. Sistem kontrol adaptif mengatur posisi panel berdasarkan kondisi cuaca dan kebutuhan cahaya tanaman.

Sistem juga mempertimbangkan Photosynthetically Active Radiation (PAR) dalam menentukan posisi panel surya. PAR merupakan rentang cahaya yang berperan penting dalam proses fotosintesis tanaman.

"Dengan pendekatan tersebut, panel surya dapat bermanuver secara dinamis," kata Umar. Ketika energi perlu dimaksimalkan, panel diarahkan memperoleh paparan matahari secara optimal.

Sebaliknya, posisi panel dapat disesuaikan ketika tanaman membutuhkan lebih banyak cahaya. Kecerdasan buatan membantu sistem mengambil keputusan berdasarkan kondisi lingkungan yang berubah.

“Yang kami coba selesaikan adalah dilema pemanfaatan lahan, apakah listrik atau pangan,” kata Umar. “Kami berusaha menyelaraskan keduanya melalui pengaturan sudut panel."

Mahasiswa asal Kepulauan Natuna itu mengatakan inovasi tersebut tidak sekadar mengejar capaian teknologi. Riset tersebut juga diarahkan menjawab tantangan ketahanan energi dan pangan akibat perubahan iklim.

Riset berjudul Adaptive Control Strategies for Optimizing Power Output of Agrivoltaic Systems Under Variable Weather Conditions. Keunggulannya terletak pada konsep dual-objective untuk mengoptimalkan listrik sekaligus kebutuhan cahaya tanaman.

Pendekatan tersebut diharapkan meningkatkan Land Equivalent Ratio (LER). Satu bidang lahan dapat dimanfaatkan untuk produksi energi sekaligus pertanian.

Pada ajang International Innovation, Invention and Creativity Exhibition (IIICe) 2026 di Malaysia, mereka berhasil menyabet medali emas. Hasil riset mereka bersaing dengan 139 peserta atau tim dan kompetisi berlangsung secara hybrid dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan institusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....