Siswa SD Surabaya Ciptakan AI Penerjemah Bahasa Isyarat, Raih Juara Nasional

  • 31 Jul 2026 18:13 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Berawal dari kepedulian terhadap penyandang tunarungu dan tunawicara, lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya menciptakan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Inovasi tersebut mengantarkan Tim Nebula One meraih Juara 1 Kategori Young Innovators pada ajang Impact Fest 2026.

Tim Nebula One beranggotakan Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi yang merupakan siswa kelas V dan VI. Mereka mengembangkan aplikasi bernama Sign Language Translator dengan bimbingan guru serta memanfaatkan platform Pictoblocks dan teknologi machine learning.

Salah satu anggota tim, Shauqi, mengatakan ide tersebut muncul setelah berdiskusi bersama guru pembimbing. Mereka melihat masih banyak masyarakat yang kesulitan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas sensorik karena belum memahami bahasa isyarat.

"Aplikasi ini memuat materi pembelajaran Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) dan SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia). Kami ingin membantu masyarakat luas agar lebih mudah paham dan belajar bahasa isyarat," kata Shauqi, Jumat, 31 Juli 2026.

Pengembangan aplikasi dilakukan selama tiga hingga lima bulan. Prosesnya dimulai dari pencarian ide, riset sederhana, hingga belajar pemrograman dasar.

Selama proses pengembangan, tim sempat menghadapi kendala berupa kesalahan penerjemahan gerakan atau translation error. Masalah tersebut diatasi dengan melakukan debugging dan penyempurnaan program secara bertahap.

Saat ini Sign Language Translator masih berada pada tahap prototipe. Tim Nebula One berencana menambahkan fitur Sign to Text, Text to Sign, dan Voice to Sign agar aplikasi semakin bermanfaat.

"Kami berharap aplikasi ini kelak bisa diakses publik dan dipakai banyak orang untuk menghilangkan hambatan komunikasi dengan teman-teman disabilitas," ujar mereka.

Kelima siswa itu juga mengajak teman-teman seusianya agar tidak takut berinovasi. Mereka menilai ide sederhana dapat menjadi solusi yang bermanfaat jika diwujudkan.

"Jangan takut salah. Kalau punya ide, langsung keluarkan dan teruskan. Bermain ponsel boleh untuk cari ide, tapi harus berani direalisasikan agar menjadi hal yang berguna bagi masyarakat," pesannya.

Keberhasilan Tim Nebula One mendapat dukungan penuh dari Kepala SDN Tenggilis Mejoyo I, Siti Noor Iffa, bersama dua guru pendamping, Ika Khusniyawati dan Arizkylia Yoka Putri. Sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas di bidang teknologi.

"Alhamdulillah, selama ini sudah terjalin kolaborasi yang baik antara sekolah dan wali murid untuk mendukung prestasi anak-anak," kata Siti Noor Iffa.

Guru pendamping Ika Khusniyawati menjelaskan, ide aplikasi tersebut berangkat dari isu inklusivitas yang menjadi perhatian dunia pendidikan. Para siswa diajak melakukan riset literatur sederhana sebelum menentukan solusi yang akan dikembangkan.

"Segalanya butuh proses dan tidak ada yang instan. Nilai akademik memang penting, tetapi bakat, minat, serta keberanian anak untuk berinovasi jauh lebih bernilai," ujar Ika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....