SeBAYA PKBI dan Forum Anak Jatim Ingatkan Pentingnya Pendampingan Digital Anak

  • 29 Jul 2026 06:22 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pendampingan orang tua dinilai menjadi kunci membangun kebiasaan digital yang sehat bagi anak. Pesan itu mengemuka dalam siaran Sore Ceria Pro 2 RRI Surabaya bertema "Ditonton Sekali, Ditiru Selamanya".

Program menghadirkan Gio Fikro Haqiqi dari Forum Anak Jawa Timur. Hadir pula Dian Fauzun Ashofah dari Sebaya PKBI Jawa Timur sebagai narasumber.

Pembahasan menyoroti kebiasaan anak mengakses media sosial setiap hari. Fenomena itu dinilai perlu menjadi perhatian seluruh keluarga.

Gio mengatakan anak mudah meniru apa yang mereka lihat. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena kemampuan membedakan benar dan salah belum berkembang sempurna.

"Anak-anak itu belum tentu cukup aman. Ketika belum teredukasi dengan baik, mereka akan meniru apa saja yang dilihat," kata Gio.

Dian menilai kehadiran orang tua sangat diperlukan selama anak menggunakan gawai. Pendampingan juga penting karena algoritma media sosial terus menampilkan konten serupa.

"Orang tua juga harus hadir untuk menemani anak-anak," ujar Dian.

Narasumber menjelaskan masa anak merupakan periode perkembangan yang sangat menentukan. Lingkungan dan tontonan menjadi stimulus utama pembentukan perilaku mereka.

Gio menegaskan perilaku orang tua juga menjadi contoh bagi anak. Karena itu, pembatasan media sosial harus dibarengi teladan yang baik di rumah.

Pembahasan turut menyinggung aturan pembatasan usia penggunaan media sosial. Menurut narasumber, kebijakan tersebut bertujuan menciptakan ruang digital yang lebih aman.

"Peraturan itu bukan melarang anak bermedia sosial. Peraturan itu membatasi agar ruang digital lebih sehat," ujar Gio.

Dian menyampaikan anak tetap dapat memanfaatkan teknologi secara bijak. Namun, penggunaan gawai perlu disesuaikan dengan usia dan pengawasan orang tua.

Ia menyarankan anak berusia di bawah 13 tahun belum memiliki akses media sosial secara mandiri. Screen time juga perlu diatur agar tidak berlebihan.

Selain membatasi penggunaan gawai, Gio mengajak orang tua mengenalkan permainan tradisional. Aktivitas tersebut dinilai mampu melatih motorik sekaligus interaksi sosial anak.

Narasumber juga mengingatkan bahaya aplikasi yang memungkinkan anak berinteraksi dengan orang asing. Akses tanpa pengawasan berpotensi meningkatkan berbagai risiko keamanan digital.

Pembicaraan berlanjut pada pengaruh konten media sosial terhadap perilaku anak. Salah satunya, munculnya kecenderungan meniru konten hubungan asmara sejak usia sekolah dasar.

"Ketika kita menyebarkan konten, tanpa sadar anak-anak ikut melihat dan menirunya," kata Gio.

Paparan konten yang beragam juga dinilai berdampak terhadap kondisi psikologis anak. Perubahan emosi yang cepat dapat memengaruhi konsentrasi dan kesehatan mental.

Gio menilai kolaborasi keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi langkah penting menciptakan ruang digital aman. Edukasi harus dilakukan sebelum anak terpapar konten negatif.

"Kita bukan hanya membatasi, tetapi mengedukasi supaya anak paham alasan di balik aturan itu," ujar Gio.

Pada kesempatan itu, narasumber juga mengingatkan risiko predator digital terhadap anak pembuat konten. Pendampingan orang tua diperlukan agar aktivitas digital tetap aman dan sesuai usia.

Menutup diskusi, Gio dan Dian berbagi pengalaman menggunakan telepon seluler saat remaja. Mereka menilai pembatasan waktu penggunaan gawai sejak kecil membantu membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat hingga dewasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....