Gubes ITS Gagas Kecerdasan Artifisial Adaptif Berbasis Continual Learning

  • 18 Jun 2026 05:25 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pesatnya perubahan data, perilaku manusia, dan ancaman siber menuntut AI terus beradaptasi. Menjawab tantangan itu, Guru Besar ITS Prof Ary Mazharuddin Shiddiqi mengembangkan konsep continual learning.

Dalam orasi ilmiahnya, Ary menegaskan AI harus terus belajar dari data baru. Menurutnya, sistem yang tidak beradaptasi akan cepat tertinggal.

“AI akan menjadi obsolete jika tidak beradaptasi,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026. Guru Besar ke-238 ITS itu menjelaskan continual learning meniru kemampuan manusia belajar berkelanjutan.

Konsep ini memungkinkan AI mempelajari pengetahuan baru tanpa melupakan pengetahuan lama. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan catastrophic forgetting.

Kondisi tersebut membuat AI memahami hal baru, tetapi kehilangan pengetahuan sebelumnya. “Model AI bisa memahami hal-hal baru, tetapi melupakan hal-hal lama yang telah dipelajari,” katanya.

Ary juga memperkenalkan Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka ini terdiri atas tahapan observe, learn, remember, adapt, dan act.

Melalui kerangka tersebut, ia mengembangkan tiga arah kebaruan keilmuan. Ketiganya meliputi adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure.

“Saya ingin membuat sistem yang secara dinamis dapat mendistribusikan load berdasarkan availability dan trennya,” ujarnya. Penerapan konsep itu diwujudkan melalui FusionNet-FR untuk peramalan deret waktu jangka panjang.

Ary juga mengembangkan SPARC guna mendeteksi risiko kontaminan pada jaringan distribusi air. Pengembangan tersebut diperkuat dengan DiLLeMa dan CloudX-Lab.

Platform itu mendukung dynamic scheduling, load balancing, auto scaling, dan efisiensi sumber daya. Menurut Ary, AI adaptif dapat memperkuat ketahanan siber nasional dan transformasi digital.

Teknologi tersebut juga mendukung kedaulatan AI serta pengembangan sumber daya manusia unggul. “Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan lokal,” ucapnya.

Dari sisi etika, Ary menekankan AI hanyalah alat bantu manusia. AI dapat mendukung pengambilan keputusan, bukan menggantikan manusia sepenuhnya.

“AI dapat menjadi referensi, namun bukan semata-mata menggantikan kita dalam membangun pengetahuan,” ujarnya. Ary berharap riset AI adaptif memberi dampak nyata bagi masmasyarakat.

Ia berkomitmen mengembangkan continual learning untuk mendukung kemajuan ITS dan Indonesia. “Saya berkomitmen fokus pada riset continual learning untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....