Profesor ITS Gagas Sistem Otonom Perkuat Konektivitas Indonesia
- 08 Agt 2026 22:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Guru Besar ke-256 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr Ir Ari Santoso DEA menggagas sistem otonom terintegrasi. Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung konektivitas laut dan udara Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dosen Departemen Teknik Elektro ITS itu menyebut kondisi geografis Indonesia menghadirkan berbagai tantangan konektivitas. Tantangan tersebut mencakup keselamatan, komunikasi, distribusi antarpulau, hingga pemantauan sumber daya kelautan.
“Teknologi ini diperlukan untuk menjawab tantangan konektivitas, keselamatan, komunikasi, dan distribusi antarpulau,” ujar Ari, Sabtu, 8 Agustus 2026. Menurutnya, kebutuhan tersebut juga mencakup keselamatan pelayaran, inspeksi kabel bawah laut, dan mitigasi bencana.
Ari kemudian merancang tiga pilar kendaraan otonom untuk wilayah permukaan laut, bawah laut, dan udara. Ketiganya diwujudkan melalui autonomous underwater vehicle (AUV), unmanned surface vehicle (USV), dan unmanned aerial vehicle (UAV).
“Ketiganya merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu, antara lain mekanika, hidrodinamika, dan aerodinamika,” ucapnya. Selain itu, sistem tersebut menggabungkan elektronika, sensor, dan kecerdasan buatan untuk mendukung operasional kendaraan otonom.
Secara konsep, kendaraan otonom tersebut bekerja menggunakan sistem tertutup atau closed-loop system. Sistem tersebut terdiri dari enam komponen utama, yaitu measurement, perception, guidance, control, actuator, dan environment.
“Keenamnya saling terhubung dalam aliran informasi dan aksi yang berulang,” ujarnya Menurut Ari, sistem tersebut menghasilkan keputusan serta gerakan yang adaptif, aman, dan optimal.
Setiap komponen memiliki fungsi spesifik dalam mendukung kinerja kendaraan otonom tersebut. Measurement membaca data sensor, perception memahami lingkungan, sedangkan guidance menentukan arah dan lintasan kendaraan.
Sementara control menjaga kestabilan dan akurasi, actuator menjalankan perintah fisik kendaraan. Environment menjadi sumber gangguan yang harus diantisipasi sistem agar kendaraan tetap beroperasi optimal.
Teknologi AUV, USV, dan UAV kemudian dapat bekerja sesuai karakteristik wilayah operasional masing-masing. Ari menjelaskan AUV digunakan untuk menginspeksi wilayah bawah laut, termasuk kabel listrik dan pipa.
Teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi terumbu karang dan lingkungan bawah laut. Sementara itu, USV berperan sebagai wahana permukaan untuk mendukung komunikasi dan pengamatan laut.
“Sementara di udara, UAV berfungsi untuk memperluas jangkauan pengamatan," kata Ari. Ari menilai sistem kendaraan otonom tersebut menjadi teknologi strategis untuk memperkuat kedaulatan Indonesia.
Teknologi ini mendukung pengawasan wilayah kepulauan sekaligus memperkuat konektivitas dan pemanfaatan sumber daya. Pengembangan tersebut sejalan dengan komitmen ITS terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....