Transformasi Pendidikan Kian Cepat, AI Masuk Kelas Virtual

  • 03 Des 2025 00:17 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Pendidikan tengah mengalami percepatan atau transformasi yang saat ini dapat terlihat dari pembelajaran menggunakan teknologi digital. Mulai dari pembelajaran daring, kecerdasan buatan, dan pembelajaran adaptif kelas maya hingga perkembangan metamesta.

"Jadi semuanya ini menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran masa depan yang sedang kita bangun bersama," ujar Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendiktisaintek, Dr. Beny Bandanadjaja saat memberikan sambutan secara daring, dalam pembukaan lomba inovasi digital mahasiswa (LIDM) tahun 2025 di Universitas PGRI Adi Buana (UAB) Surabaya, Senin (1/12/2025).

Dia mengatakan berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia membutuhkan 12 juta lebih talenta digital hingga tahun 2030 mendatang.

"Sementara ketersediaan itu hanya sekitar sembilan juta. Tentunya kita masih memiliki kekurangan sekitar 2,7 juta talenta digital," kata Beny. Menurutnya, melalui LIDM, mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi, juga mampu menciptakan solusi inovatif bagi dunia pendidikan.

"Selain itu indeks masyarakat digital indonesia juga menunjukkan adanya kesenjangan digital antara wilayah," ucap Beny. Dia menjelaskan di satu sisi ada daerah yang sudah adaptif, namun di sisi lain masih banyak wilayah yang baru mulai bertransformasi.

"Jadi inovasi mahasiswa di bidang teknologi pendidikan dapat menjadi jembatan yang mengurangi kesenjangan tersebut, mewujudkan pembelajaran yang lebih inklusif, efisien dan menyenangkan," ujar Beny. Hal ini, lanjutnya, memberikan pelajaran yang penting bahwa transformasi digital tidak hanya soal perangkat atau aplikasi.

"Ada guru yang belum siap, siswa yang belum memiliki akses yang memadai, dan konten pembelajaran yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan zaman," kata Beny. Jadi, melalui karya-karya inovatif para finalis LIDM, tambahnya, kita akan belajar bahwa teknologi adalah jembatan untuk pemerataan kualitas pembelajaran.

"Jadi kompetisi ini bukan hanya tentang membuat aplikasi atau sistem yang canggih, namun lebih dari itu," ucap Beny. LIDM adalah ruang untuk menghadirkan cara baru agar pembelajaran menjadi lebih bermakna.

"Sebagaimana teknologi memperkuat interaksi, data membantu guru memahami siswanya, dan inovasi digital memastikan tidak ada peserta didik yang tertinggal," ujar Beny.

Dia berharap menjadikan LIDM sebagai titik awal kolaborasi antar kampus, industri dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih cerdas dan berkeadilan.

Selain itu Beny berharap mahasiswa Indonesia mampu menghadirkan inovasi digital. "Yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga berdampak nyata bagi kemajuan dan kesetaraan pendidikan Indonesia," katanya.

Beny juga mengajak agar kegiatan ini melahirkan ide besar kolaborasi baru, dan pengalaman yang memperkaya perjalanan mahasiswa semua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....