ICMI Jatim Dukung Program Satu Keluarga Satu Sarjana Pemkot Surabaya

  • 09 Jul 2026 16:53 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Program Satu Keluarga Satu Sarjana Pemkot Surabaya dinilai sebagai langkah strategis memperluas akses pendidikan tinggi bagi keluarga berpenghasilan rendah di tengah meningkatnya biaya UKT.
  • M. Isa Ansori, Wakil Ketua ICMI Jawa Timur, menekankan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi jalan mobilitas sosial, bukan hambatan, dan mahalnya biaya kuliah menyangkut masalah keadilan sosial.
  • ICMI Jawa Timur mendorong kolaborasi lintas sektor melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, dan alumni untuk memperkuat pembiayaan pendidikan melalui beasiswa, CSR, wakaf produktif, dan zakat.

RRI.CO.ID, Surabaya – Program Satu Keluarga Satu Sarjana yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dinilai menjadi langkah strategis memperluas akses pendidikan tinggi bagi keluarga berpenghasilan rendah. Program tersebut hadir di tengah meningkatnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di sejumlah perguruan tinggi.

Kolumnis sekaligus Wakil Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, M. Isa Ansori, menilai mahalnya biaya kuliah kini tidak lagi sekadar menjadi persoalan pendidikan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial. "Ketika seorang anak batal kuliah karena faktor ekonomi, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar, tetapi juga harapan sebuah keluarga, potensi daerah, dan aset bangsa. Pendidikan tinggi semestinya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan justru menghadirkan hambatan baru," kata Isa Ansori, Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut Isa, Program Satu Keluarga Satu Sarjana menunjukkan keberpihakan Pemkot Surabaya terhadap pembangunan sumber daya manusia. Program tersebut dinilai mampu membangun optimisme bahwa setiap keluarga memiliki kesempatan melahirkan generasi berpendidikan tinggi.

"Surabaya menunjukkan bahwa investasi terbaik bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun infrastruktur harapan. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang akan melahirkan generasi produktif, inovatif, dan berdaya saing," ujarnya.

Isa menilai kebijakan tersebut layak menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Ia juga mendorong pemerintah pusat mengevaluasi sistem UKT agar lebih mencerminkan kemampuan ekonomi keluarga.

"Sementara perguruan tinggi didorong memperluas skema beasiswa, memberikan mekanisme peninjauan UKT yang lebih adaptif, serta menyediakan pilihan pembayaran yang lebih fleksibel," katanya.

Selain itu, Isa mengajak dunia usaha, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, dan alumni perguruan tinggi untuk berkolaborasi memperkuat pembiayaan pendidikan melalui program tanggung jawab sosial dan gerakan gotong royong. Menurutnya, ICMI Jawa Timur siap mengambil peran dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui kolaborasi lintas sektor.

"Program Satu Keluarga Satu Sarjana tidak boleh berhenti sebagai program pemerintah semata. Ini perlu berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga filantropi, para alumni, dan masyarakat sehingga tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan kuliah hanya karena persoalan ekonomi," tuturnya.

Isa menambahkan, ICMI Jawa Timur juga mendorong lahirnya Gerakan Seribu Sarjana Jawa Timur yang mencakup beasiswa, pendampingan akademik, pengembangan kompetensi, magang, kewirausahaan, hingga penyaluran kerja. Menurutnya, dana abadi pendidikan berbasis wakaf produktif, zakat, infak, sedekah, CSR, dan kontribusi alumni dapat menjadi solusi pembiayaan pendidikan berkelanjutan.

"Surabaya telah memulai langkah melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana. Kini saatnya seluruh elemen bangsa memperkuat langkah tersebut agar semakin banyak anak Indonesia yang dapat menyelesaikan pendidikan tinggi. Setiap sarjana yang lahir merupakan investasi bagi kemajuan daerah dan masa depan bangsa," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....