Waspada Demensia Bagi Jemaah Haji Lansia

  • 14 Mei 2025 17:53 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Demensia menjadi salah satu masalah kesehatan yang masih perlu diwaspadai oleh jemaah haji di tahun 2025 ini, terutama bagi mereka yang lanjut usia. Kepala Departemen Psikiater Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Roni Subagyo, Sp.KJ, mengungkapkan bahwa demensia adalah gangguan fungsi kognitif yang mempengaruhi daya ingat, memori, kemampuan berpikir, serta perilaku seseorang. Kondisi ini kata dokter Roni akan berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan ibadah haji.

"Musim haji tahun ini syndrom demensia masih menjadi perhatian serius bagi jenaah haji khususnya lansia. Karena mengganggu fungsi kognitif terkait daya ingat, memori dan kemampuan berpikir utamanya bagi jemaah lansia tentu akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan ibadah haji," ungkapnya saat menjadi narasumber dialog pagi Pro1 RRI Surabaya Rabu (14/5/2025).

Lebih lanjut kata Dr. Roni, gejala demensia meliputi gangguan daya ingat, disorientasi waktu dan tempat, kesulitan dalam berkomunikasi, perubahan perilaku, dan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Ia menjelasakan bahwa penyebab demensia pada jemaah haji bisa beragam, mulai dari faktor usia, riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, hingga kurangnya stimulasi mental.

"Kondisi cuaca ekstrem, kelelahan fisik, dan stres emosional selama perjalanan ibadah haji juga bisa menjadi pemicu tapi utamanya terkait riwayat penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, hingga kurangnya stimulasi mental yang diderita oleh jemaah haji lansia. Karena penyakit ini tidak tiba-tiba datang namun ada tahapan dan proses hingga divonis terkena syndrom demensia," ujarnya.

Guna mencegah demensia, Dr. Roni merekomendasikan jemaah haji untuk menjaga kesehatan fisik dengan pola makan seimbang, cukup istirahat, melakukan aktivitas fisik ringan, serta menjaga kesehatan mental dengan tetap bersosialisasi dan melakukan aktivitas yang merangsang otak, seperti berdzikir atau membaca Al-Qur’an.

Dalam hal penanganan, ia menyarankan agar jemaah yang menunjukkan gejala demensia segera mendapat pendampingan dan pengawasan dari petugas kesehatan.

"Jemaah dengan gejala berat harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," tegas Dr. Roni.

Ia berharap para jemaah haji dan pendampingnya lebih waspada terhadap tanda-tanda demensia agar ibadah haji dapat berjalan dengan lancar dan aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....