Rami Pasta, Usaha Kuliner di Surabaya yang Lahir dari Ide Anak SD

  • 31 Agt 2026 20:07 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ide seorang anak saat libur sekolah berkembang menjadi usaha pasta rumahan. Rami Pasta melayani pesanan harian dengan strategi penjualan bersama sang ibu.

Usaha tersebut digagas saat anak Indah Odivtia, pemilik Rami Pasta, menikmati liburan sekolah. Anaknya yang duduk di kelas tiga SD itu ingin mencoba berjualan seperti pedagang yang dilihatnya.

Indah kemudian menawarkan penjualan secara daring agar kegiatan usaha lebih mudah dijalankan. Pilihan tersebut membuat sang anak tetap dapat berjualan tanpa harus membuka lapak di tengah cuaca panas.

“Anak saya minta dibikinkan usaha, dia pengen jualan,” kata Indah dalam program Muda Kreatif Pro2 RRI Surabaya. Ide itu muncul setelah sang anak sering melihat kendaraan digunakan untuk berjualan di pinggir jalan.

Rami Pasta menjadi pilihan karena pasta merupakan makanan kesukaan anak Indah. Saat tidak ingin makan atau sedang kurang sehat, anak tersebut biasanya memilih pasta.

Menurut Indah, keluarganya juga memiliki pengalaman menjalankan usaha katering rumahan dan katering pernikahan. Lingkungan keluarga itu membuat anak terbiasa melihat kegiatan usaha sejak usia dini.

Pada awalnya, penjualan dilakukan melalui Threads untuk menguji respons calon pelanggan. Indah memilih Threads karena prosesnya dianggap lebih sederhana dibandingkan marketplace dan layanan pesan antar.

“Pertama kali buka PO banyak yang masuk, saya juga kaget,” ujar Indah. Pesanan perdana bahkan mencapai sekitar 150 porsi ketika promosi dilakukan melalui akun baru.

Tingginya respons tersebut membuat anak Indah semakin bersemangat menjalankan usaha. Selama dua pekan pertama, ia ikut membantu menyelesaikan pesanan sebelum dikirim kepada pelanggan.

Tugas sang anak antara lain melakukan finishing, mengemas pesanan, dan menempelkan stiker. Ia juga memilih stiker bergambar kucing karena menyukai hewan tersebut.

Indah mengatakan anaknya belum memiliki target penjualan maupun target pendapatan tertentu. Fokus utama anak tersebut justru membuat pelanggan senang melalui produk yang dibuat.

“Yang penting saya buat pelanggan senang,” kata Indah mengenai prinsip anaknya. Respons positif pelanggan kemudian menjadi penyemangat bagi anak untuk terus mencoba.

Produk Rami Pasta dibuat menggunakan bahan yang juga dikonsumsi keluarga Indah. Saus bolognese dan saus Alfredo dibuat sendiri untuk menjaga kualitas bahan serta rasa.

Menu tertentu juga disesuaikan agar dapat dinikmati anak-anak. Aglio e olio yang biasanya pedas, misalnya, dibuat tanpa rasa pedas untuk pelanggan anak.

Rami Pasta saat ini menawarkan seluruh variannya dengan harga terjangkau. Indah berupaya mempertahankan harga tersebut meski sejumlah bahan baku mengalami kenaikan.

“Tantangannya adalah kami tetap bisa survive dengan HPP yang segitu,” ujar Indah. Ia menyebut harga ayam telah meningkat, sementara bahan premium tetap digunakan dalam produksi.

Indah menilai usaha makanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan memasak. Pelaku usaha juga perlu memahami harga, strategi penjualan, pengelolaan biaya, dan kebutuhan pelanggan.

Pemahaman tersebut mulai diperkenalkan Indah kepada anaknya sejak menjalankan Rami Pasta. Menurutnya, kemampuan memasak harus berjalan bersama kemampuan mengelola usaha.

Awalnya, Rami Pasta menerapkan sistem pre-order untuk pesanan akhir pekan. Setelah strategi produksi semakin terbentuk, pelanggan kini dapat melakukan pemesanan setiap hari.

Produksi harian disesuaikan dengan stok yang telah disiapkan. Jika seluruh porsi habis, pesanan akan ditutup dan pelanggan diarahkan untuk memesan keesokan harinya.

Dalam sehari, Indah dapat menyiapkan sekitar 150 porsi sesuai kebutuhan. Pesanan besar banyak datang dari kelompok pegawai kantor.

“Sekali pesan mereka bisa kadang 30, kadang rame-rame,” tutur Indah. Pola tersebut membantu pengelolaan produksi karena pesanan dapat dimasak secara bersamaan.

Perjalanan Rami Pasta menunjukkan ide anak dapat menjadi awal pembelajaran kewirausahaan. Bagi Indah, pengalaman itu juga membangun keberanian mencoba.

Anaknya belajar produksi, pelayanan pelanggan, pengemasan, hingga strategi penjualan. Pengalaman itu menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab dan pengelolaan usaha.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....