Roni Fathurahman Kembangkan Usaha Donat dari Hobi Jajan

  • 27 Agt 2026 12:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Roni Fathurahman mengembangkan usaha Dolu Donat bersama istrinya dari kebiasaan sederhana. Kisah tersebut disampaikan Roni dalam program Muda Kreatif Pro 2 RRI Surabaya.

Usaha Dolu Donat dijalankan Roni bersama Wulan sejak 2024 dan terus berkembang hingga sekarang. Keduanya merupakan pasangan suami istri yang menikah pada 2020 dan membangun usaha kuliner tersebut bersama.

Roni memiliki latar belakang sebagai fotografer dan videografer sebelum akhirnya menekuni bisnis kuliner. Sementara itu, Wulan merupakan ibu rumah tangga yang kemudian membantu menjalankan produksi donat.

Ide membuat donat muncul karena Roni kerap membeli donat ketika bepergian atau melintas di jalan. Wulan kemudian menyarankan Roni membuat donat sendiri di rumah daripada terus membeli.

Saran tersebut diwujudkan dengan membuat donat rumahan untuk pertama kalinya bersama istrinya. Beberapa hari kemudian, pasangan itu mengikuti bazar lingkungan dan mencoba menjual donat buatan mereka.

Roni mengaku tidak langsung yakin produknya mendapat sambutan pembeli ketika mengikuti bazar tersebut. Mereka bahkan hanya berjualan satu hari dari dua hari kesempatan membuka stan.

Setelah bazar, penjualan berlanjut melalui grup komunikasi lingkungan yang berisi pelaku UMKM setempat. Wulan sempat pesimistis karena pesanan belum masuk hingga menjelang malam pada pemasaran pertama.

Pesanan justru berdatangan pada hari berikutnya dari tetangga yang membutuhkan bekal untuk anak mereka. “Waktu itu kita jual enam ribu satu bowl, isinya sekitar enam sampai tujuh donat,” kata Roni.

Produk awal berupa donat kecil yang disajikan dalam mangkuk dan dilengkapi tusukan untuk memudahkan penyajian. Pesanan pertama membuat mereka mengemas produk sekitar pukul dua dini hari demi memenuhi permintaan.

Menurut Roni, mereka belum memikirkan keuntungan secara rinci dari setiap produk yang terjual saat memulai usaha. “Kita belum mikir untungnya berapa, yang penting ada yang pesan,” ujarnya.

Seiring bertambahnya pesanan, Roni mulai terlibat langsung membantu Wulan dalam proses produksi donat. Ia merasa kasihan melihat istrinya terus menguleni adonan seorang diri untuk memenuhi pesanan.

Roni kemudian belajar membuat donat hingga mampu menangani seluruh proses produksi secara mandiri. “Alhamdulillah sekarang saya yang full produksi, mulai dari bahan mentah sampai topping,” katanya.

Proses belajar tidak mudah karena membuat donat membutuhkan ketelitian, konsistensi, dan pemahaman adonan. Menurut Roni, membulatkan adonan menjadi bagian sulit ketika dirinya pertama kali belajar.

Adonan harus padat agar donat tidak memiliki gelembung dan tidak mudah kempes setelah digoreng. Fermentasi berlebihan juga dapat membuat donat terasa asam serta mengeluarkan bau ragi.

Wulan belajar membuat donat dengan melihat neneknya menjalankan katering kue dan mengikuti kursus. Roni kemudian memilih mengundurkan diri setelah doanya agar omzet meningkat dua kali lipat terjawab tiga kali lipat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....