Santri Qotrul Falah Kembangkan Usaha Anyaman lewat OPOP Jatim

  • 21 Jul 2026 20:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Ponorogo – Pondok Pesantren Qotrul Falah di Desa Grogol, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo mengembangkan usaha kerajinan anyaman sebagai bagian dari penguatan kemandirian ekonomi pesantren. Unit usaha tersebut dikelola dengan melibatkan para santri dalam seluruh tahapan produksi.

Sejak bergabung dalam Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur pada 2026, pesantren memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, pengelolaan usaha, serta memperluas jaringan pemasaran. Anyaman menjadi salah satu produk unggulan yang dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi dan pasar yang terus berkembang.

Produk yang dihasilkan meliputi berbagai jenis tas dan kerajinan anyaman dengan kisaran harga Rp20 ribu hingga Rp120 ribu. Selain menyediakan ukuran standar, pesantren juga menerima pesanan sesuai kebutuhan konsumen, baik dari sisi bentuk maupun ukuran.

Pengurus Pondok Pesantren Qotrul Falah, Gus Miftahul Khoiri, mengatakan keterlibatan santri dalam proses produksi menjadi bagian dari pendidikan kewirausahaan yang diterapkan di lingkungan pesantren. Santri tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami proses pengelolaan usaha.

"Seluruh proses produksi kami dikerjakan oleh para santri, mulai dari belanja bahan, menganyam, hingga pengiriman. Jika pesanan sedang sangat banyak, kami terkadang meminta bantuan masyarakat sekitar. Kami berharap OPOP Jatim terus mendampingi pesantren sehingga usaha ini semakin maju dan memberikan manfaat bagi santri maupun masyarakat sekitar," ujar Miftahul Khoiri.

Ia menambahkan, ketika jumlah pesanan meningkat, pesantren turut melibatkan masyarakat sekitar untuk membantu proses produksi. Langkah tersebut dinilai tidak hanya menjaga kapasitas produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga di sekitar pesantren.

Menurut Miftahul Khoiri, hasil kerajinan anyaman Pondok Pesantren Qotrul Falah telah dipasarkan ke sejumlah daerah di luar Pulau Jawa, di antaranya Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Jangkauan pemasaran tersebut menunjukkan adanya permintaan terhadap produk kerajinan yang dihasilkan para santri.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPOP Jawa Timur, Gus Ghofirin, menilai usaha yang dikembangkan Pondok Pesantren Qotrul Falah menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk unggulan.

"OPOP Jatim akan terus mendampingi pesantren agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki daya saing, serta mampu memperluas jangkauan pasar. Harapannya semakin banyak pesantren yang mandiri secara ekonomi dan memberikan manfaat bagi santri, masyarakat, serta perekonomian daerah," kata Gus Ghofirin, melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 21 Juli 2026.

Program OPOP Jawa Timur mendorong pesantren mengembangkan unit usaha berbasis potensi lokal melalui pendampingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan akses pasar. Melalui skema tersebut, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....