Mahasiswa UNAIR Sukses Kembangkan Usaha Deorans
- 03 Mar 2026 14:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Seorang mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, Raihan Syah Rafi, sukses mengembangkan usaha deodorant bernama Deorans. Usaha tersebut lahir dari keterbatasan ekonomi keluarga saat pandemi COVID-19. Raihan memulai perjalanan bisnisnya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat itu, ia menjual masker dan hand sanitizer mengikuti kebutuhan pasar.
“Awalnya karena kondisi keluarga terdampak pandemi, kami benar-benar harus bertahan,” ujarnya.
Ia menyebut kondisi tersebut memaksanya belajar berwirausaha sejak usia muda. Setelah bisnis masker menurun, Raihan mencoba berbagai usaha lain secara mandiri. Ia sempat menjual akuarium akrilik hingga bahan logam untuk kebutuhan pertukangan. Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk pola pikir adaptif terhadap peluang usaha. Ia selalu memanfaatkan momentum yang sedang berkembang di masyarakat.
“Kalau salah langkah, bisa habis semuanya, jadi harus benar-benar hati-hati,” kata Raihan. Ia menekankan pentingnya strategi dalam mengelola modal terbatas.
Berbeda dari usaha sebelumnya, Deorans lahir bukan karena momentum sesaat. Ide tersebut muncul dari kebiasaan keluarga menggunakan berbagai produk deodorant. Raihan kemudian meneliti komposisi produk yang digunakan sehari-hari. Ia menemukan bahan sederhana yang dapat dikembangkan menjadi produk baru.
“Saya lihat komposisinya sederhana, jadi terpikir untuk membuat sendiri,” ujarnya.
Ia mengaku langsung menghitung biaya produksi sebelum memulai. Dengan modal awal hanya Rp360 ribu, Raihan mulai memproduksi deodorant tersebut. Sebagian besar modal bahkan berasal dari pinjaman keluarga. Ia mengaku sempat merasa tertekan karena kondisi keuangan yang mendesak. Namun, keberanian mengambil risiko menjadi kunci awal keberhasilannya.
“Deg-degan pasti, karena ini uang terakhir yang dimiliki,” kata Raihan. Ia menyebut situasi tersebut sebagai momen penentuan dalam hidupnya.
Dalam proses produksi, Raihan mengandalkan referensi jurnal ilmiah. Ia memastikan produknya aman digunakan, termasuk untuk kulit sensitif. Deorans menggunakan bahan tanpa alkohol agar lebih ramah bagi pengguna. Hal ini menjadi nilai tambah dibandingkan produk lain di pasaran.
“Saya baca beberapa jurnal untuk memastikan komposisinya aman,” ujarnya. Ia juga menyesuaikan formula berdasarkan kebutuhan konsumen.
Untuk pemasaran, Raihan memanfaatkan platform digital seperti marketplace dan media sosial. Ia juga aktif melakukan promosi melalui siaran langsung di TikTok. Strategi tersebut terbukti efektif meningkatkan penjualan produk secara signifikan. Dalam satu sesi siaran langsung, penjualan bisa meningkat hingga puluhan produk.
“Kalau live TikTok, penjualan bisa jauh lebih banyak,” katanya.
Ia menyebut durasi ideal siaran minimal satu hingga dua jam. Selain itu, jaringan pertemanan dan organisasi turut membantu pengembangan bisnisnya. Raihan aktif di berbagai organisasi kampus yang memperluas relasinya. Dukungan dari teman dan lingkungan kampus turut mendorong pertumbuhan Deorans. Ia memanfaatkan relasi tersebut sebagai pasar awal produknya.
“Relasi sangat membantu, terutama untuk memperkenalkan produk,” ujarnya. Ia juga mendapat dukungan dari komunitas mahasiswa.
Menariknya, proses branding Deorans juga melibatkan teknologi kecerdasan buatan. Raihan menggunakan bantuan AI untuk menentukan konsep dan nama produk. Ia mengaku keputusan tersebut diambil karena keterbatasan waktu. Namun, hasilnya justru membantu mempercepat pengembangan bisnis.
“Semua konsep awal dibantu AI, mulai dari nama hingga branding,” kata Raihan. Ia kemudian memilih konsep yang paling sesuai dengan visinya.
Kini, Deorans terus berkembang sebagai usaha mahasiswa yang menjanjikan. Raihan berharap bisnisnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia menilai keterbatasan bukan penghalang untuk memulai usaha. Justru kondisi sulit dapat menjadi pemicu lahirnya inovasi baru.