Rupiah Melemah, Rahma Gafmi Nilai Tekanan Terparah di Asia Tenggara
- 19 Mei 2026 21:41 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus Rp17.600 per dolar AS. Guru Besar Ekonomi Moneter, Rahma Gafmi menyoroti pelemahan ini dinilai terdalam dibanding mata uang negara berkembang di Asia Tenggara.
Rahma Gafmi menilai kondisi ini dipengaruhi faktor global. Tekanan tersebut juga diperparah ketidakpastian ekonomi domestik.
Rahma menjelaskan gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan pelemahan rupiah. Kebijakan suku bunga Federal Reserve juga mendorong arus modal keluar.
Menurutnya, investor global cenderung memindahkan dana ke aset aman di Amerika Serikat. Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rahma menuturkan konflik AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Indonesia sebagai importir minyak membutuhkan lebih banyak dolar untuk energi domestik.
“Faktor global memiliki bobot sekitar 70 hingga 80 persen terhadap tekanan rupiah,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026. “Faktor domestik lebih berperan sebagai amplifier di tengah badai eksternal.”
Ia menambahkan inflasi Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga tinggi memperbesar tekanan. Pasar juga menyoroti defisit APBN dan kebutuhan dolar untuk utang.
“Pasar membenci ketidakpastian. Ketika disiplin fiskal diragukan, tekanan rupiah berlipat ganda,” katanya. Kondisi itu membuat sentimen pasar semakin negatif.
Rahma menilai intervensi Bank Indonesia tetap krusial menjaga stabilitas pasar. Instrumen swap, forward, dan DNDF menjadi andalan meredam kepanikan.
“Intervensi BI penting untuk menjaga orderly market dan mencegah kepanikan,” ujarnya. Meski demikian, intervensi dinilai bukan solusi jangka panjangIalah
Ia menegaskan penguatan sektor riil menjadi kunci stabilitas rupiah. Investasi asing langsung juga diperlukan untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional.
“Stabilitas nilai tukar lahir dari sektor riil yang produktif,” ucap Rahma. Menurutnya, produktivitas nyata menjaga harga diri rupiah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....