Pelemahan Rupiah Picu Kekhawatiran, Dosen ITS Beri Strategi Mitigasi Ekonomi

  • 20 Mei 2026 21:02 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Nilai tukar rupiah menembus Rp17.600 per dolar AS, memicu kekhawatiran pelaku usaha, terutama importir dan masyarakat. Menanggapi situasi tersebut, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Muhammad Ubaidillah Al Mustofa, menjelaskan langkah mitigasi pelemahan rupiah.

Ia menilai depresiasi rupiah menjadi indikator awal tekanan ekonomi nasional. “Jika rupiah terus terdepresiasi dan konsumsi masih didominasi impor, ekonomi akan dirugikan jangka panjang,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.

Ketergantungan tinggi terhadap barang impor dinilai memperbesar dampak pelemahan kurs. Ubaid menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal mencakup konflik geopolitik dan ancaman penutupan Selat Hormuz. Menurutnya, kondisi global mendorong kenaikan harga minyak, energi, dan bahan baku industri.

Situasi ini turut meningkatkan tekanan terhadap perekonomian nasional. Dari sisi internal, sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah turut memengaruhi kurs rupiah.

Ketidakpastian kebijakan dapat memicu capital outflow dari Indonesia. “Ketika investor menarik dananya dalam dolar AS, permintaan dolar naik dan rupiah semakin tertekan,” katanya.

Kondisi ini berdampak langsung pada stabilitas pasar keuangan domestik. Meski begitu, Ubaid menilai ekonomi Indonesia di tingkat akar rumput masih cukup kuat.

Sektor UMKM menjadi penyangga utama di tengah tekanan ekonomi global. “Kekuatan konsumsi domestik dan UMKM masih menopang perekonomian nasional,” katanya.

Namun, UMKM dinilai perlu ditingkatkan kapasitasnya agar mampu menembus pasar ekspor. “UMKM perlu naik kelas, memiliki pasar ekspor, dan mampu bersaing global,” ucapnya.

Penguatan sektor ini dinilai penting untuk ketahanan ekonomi jangka panjang. Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi sumber daya alam nasional.

Indonesia dinilai masih terlalu banyak mengekspor bahan mentah. “Pengembangan komoditas menjadi barang jadi akan meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia,” katanya.

Hilirisasi disebut mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Di sektor industri, depresiasi rupiah diperkirakan menaikkan biaya impor komoditas.

Dampaknya dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. “Kenaikan harga bahan baku dan energi dapat menurunkan daya beli masyarakat,” ujarnya.

Kondisi ini perlu diantisipasi melalui pengelolaan keuangan yang bijak. Ubaid mengimbau masyarakat menghindari belanja berlebihan dan pengeluaran konsumtif dan mengingatkan agar menghindari pinjaman berbunga tinggi.

.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....