Pasar Modal Tumbuh, Jatim Jadi Motor, Saham Tidur Masih Jadi PR
- 06 Mei 2026 18:37 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Pasar modal Indonesia tumbuh pesat dengan 26,4 juta investor
- Jawa Timur jadi salah satu pusat utama aktivitas pasar modal
- Fenomena “saham tidur” masih tinggi karena likuiditas rendah
- Penyebab utama: porsi saham publik (free float) masih kecil
- BEI perketat aturan dan dorong peningkatan free float hingga 2027
RRI.CO.ID, Surabaya - Pasar modal Indonesia terus tumbuh dengan 26,4 juta investor, 957 perusahaan tercatat, dan kapitalisasi pasar Rp12.414 triliun, serta rata-rata transaksi harian Rp24,94 triliun. Instrumen lain seperti obligasi (113 produk, Rp5.680 triliun), 631 saham syariah (66 persen), dan 473 structured warrant (Rp87 triliun) turut berkembang, didukung 1.047 Galeri Investasi di seluruh Indonesia.
Jawa Timur menjadi salah satu motor utama dengan 92 Galeri Investasi—terbanyak nasional—serta 56 perusahaan tercatat. Selain itu, terdapat 47 anggota bursa mitra (36 di Surabaya, 1 Sidoarjo, 10 Malang) dan lima manajer investasi di Surabaya.
"Namun di tengah pertumbuhan tersebut, fenomena saham tidur masih marak akibat rendahnya likuiditas perdagangan. Salah satu penyebab utamanya adalah kecilnya porsi saham publik atau free float yang sebelumnya hanya 7,5 persen." kata Kepala Perwakilan BEI Jawa Timur, Cita Mellisa, saat Workshop Wartawan Daerah Jatim 2026, Rabu, 6 Mei 2026.
Ia menyebut kondisi ini membuat ruang gerak investor terbatas dan transaksi menjadi tidak aktif.
“Kalau ingin benar-benar likuid, idealnya perusahaan melepas 20 hingga 25 persen saham ke publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, dari 56 emiten di Jawa Timur, masih terdapat saham dengan kepemilikan terkonsentrasi, bahkan dikuasai kelompok tertentu atau keluarga, sehingga berpotensi menjadi saham tidur.
Otoritas pasar modal kini memperketat aturan, termasuk kewajiban jumlah pemegang saham—minimal 1.000 untuk papan utama, 500 papan pengembangan, dan 300 papan akselerasi—serta mendorong peningkatan free float dengan masa transisi hingga 2027.
Selain itu, proses IPO juga diperketat melalui pengawasan tata kelola, afiliasi, dan kualitas laporan keuangan guna memastikan emiten lebih kredibel.
Dengan langkah tersebut, likuiditas diharapkan meningkat sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....