Kenaikan Harga jelang Lebaran Butuh Antisipasi Serius Pemerintah
- 18 Mar 2026 09:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Menjelang Hari Raya Idulfitri, kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menjadi perhatian masyarakat. Fenomena ini seolah menjadi “langganan tahunan” yang selalu terjadi, memicu pertanyaan: apakah ini sekadar tradisi atau bagian dari siklus ekonomi yang wajar?
Dalam Dialog Aspirasi Surabaya Pagi Ini, Rabu, 18 Maret 2026, Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Dr. Puput Tri Komalasari, SE, M.Si., MM, menjelaskan bahwa kenaikan harga menjelang Lebaran lebih tepat disebut sebagai siklus tahunan yang dipengaruhi oleh mekanisme pasar.
“Permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang hari raya, sementara pasokan tidak selalu mampu mengimbangi dalam waktu singkat. Kondisi ini secara alami mendorong kenaikan harga,” ujarnya.
Menurutnya, hukum supply and demand menjadi faktor utama dalam fenomena ini. Ketika kebutuhan masyarakat terhadap bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging meningkat, pelaku pasar merespons dengan penyesuaian harga.
Namun demikian, faktor distribusi juga turut memengaruhi. Kenaikan biaya transportasi, hambatan logistik, hingga cuaca yang tidak menentu dapat memperlambat pasokan barang ke pasar.
“Selain permintaan, jalur distribusi yang terganggu atau biaya logistik yang meningkat juga berkontribusi pada kenaikan harga,” jelasnya.
Puput Tri mengatakan pemerintah biasanya melakukan berbagai langkah untuk menekan lonjakan harga, seperti operasi pasar, subsidi, hingga pengawasan distribusi. Meski begitu, upaya tersebut sering kali belum mampu sepenuhnya menahan kenaikan harga di lapangan.
“Seharusnya, mitigasi dan antisipasi kenaikan harga sudah dilakukan jauh sebelum momentum Lebaran. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan stok melalui penguatan cadangan pangan nasional, distribusi yang merata, serta koordinasi lintas sektor antara pusat dan daerah,” ujarnya.
Selain itu, pemantauan harga secara real-time di pasar tradisional maupun modern menjadi penting untuk mendeteksi potensi lonjakan sejak dini. Intervensi seperti operasi pasar murah, penetapan harga acuan, hingga pengendalian distribusi harus dilakukan secara tepat waktu dan terukur.
| Baca juga: BI Siapkan Rp185,6 T jelang Lebaran 2026 |
“Penguatan infrastruktur logistik juga menjadi kunci, termasuk menjaga kelancaran jalur distribusi serta menekan biaya transportasi agar tidak berdampak langsung pada harga jual di tingkat konsumen. Di sisi lain, pengawasan terhadap praktik penimbunan barang dan spekulasi harga perlu diperketat,” jelasnya.
Fenomena ini paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Sebab saat ini, daya beli yang terbatas membuat mereka harus lebih cermat dalam mengatur pengeluaran, terutama untuk kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda.
Selain itu, Puput Tri juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mengendalikan kondisi pasar, salah satunya dengan tidak melakukan panic buying.
“Belanja secara bijak dan sesuai kebutuhan sangat penting. Jika masyarakat tidak berlebihan dalam membeli, tekanan terhadap permintaan bisa lebih terkendali,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa fenomena kenaikan harga menjelang Lebaran sebenarnya dapat diprediksi setiap tahun. Oleh karena itu, diperlukan strategi jangka panjang dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, termasuk penguatan cadangan pangan dan perbaikan sistem distribusi.
Dengan langkah mitigasi yang tepat dan kesadaran kolektif masyarakat, lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran diharapkan tidak lagi menjadi beban berat, melainkan dapat dikelola sebagai bagian dari dinamika ekonomi yang lebih stabil dan terkendali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....