IHSG Turun 31 Persen, Investor Jatim Malah Borong Saham Rp4,1 Triliun
- 23 Jun 2026 08:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pasar modal Jawa Timur mencatat dinamika kontras hingga April 2026. Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam, investor asal Jawa Timur justru mencatatkan aksi beli bersih jumbo dan jumlah investor ritel melonjak 60 persen. Data OJK Provinsi Jawa Timur menunjukkan IHSG pada April 2026 berada di level 5.931,20.
Angka ini ambles 31,41 persen secara year to date dibanding posisi akhir Desember 2025 yang masih 8.646,94. Jika dibanding April 2025 di 5.923,55, IHSG juga turun tipis 0,13 persen yoy.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, dalam Media Briefing Triwulan (TW) II 2026 pada 22 Juni 2026 di Surabaya mengatakan, meski pasar merah, investor Jatim justru memanfaatkan momentum untuk akumulasi. Net buy investor Jatim secara year to date menembus Rp4,127 miliar. Khusus bulan April 2026 atau month to date, net buy mencapai Rp2,679 miliar.
"Kondisi ini berbanding terbalik dengan nasional yang justru mencatatkan net sell Rp49,87 triliun secara ytd dan Rp17,02 triliun secara mtd. Rata-rata transaksi saham bulanan investor Jatim periode Januari sampai April 2026 tercatat sebesar Rp50,424 miliar." katanya.
Geliat juga terjadi di reksa dana. Jumlah nasabah reksa dana di Jatim per Maret 2026 mencapai 188.312. Rinciannya, nasabah institusi 1.821 dan nasabah perorangan 2.181. Pertumbuhannya kencang, nasabah institusi naik 84,83 persen yoy dan nasabah perorangan naik 44,74 persen yoy. Sejalan dengan itu, nilai penjualan bulanan reksa dana Maret 2026 mencapai Rp180,821 miliar dan 4,698 ribu dolar AS. Nilai ini tumbuh 177,82 persen yoy untuk rupiah dan 627,93 persen yoy untuk dolar AS.
Penghimpunan dana lewat Securities Crowdfunding (SCF) juga melesat. Total dana terhimpun SCF di Jawa Timur sampai dengan April 2026 mencapai Rp65,79 miliar. Angka ini tumbuh 61,66 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan didorong bertambahnya jumlah penerbit SCF menjadi 35 pihak, meningkat 12,90 persen yoy.
Jumlah pemodal juga naik 7,71 persen yoy menjadi 8.074 pihak. Mayoritas penerbit SCF di Jawa Timur berasal dari sektor Barang Konsumen Primer sebanyak 19 penerbit dengan total dana terhimpun sebesar Rp26,24 miliar atau 39,89 persen dari total. Komposisi SCF lainnya adalah Barang Konsumen Non Primer 21,97 persen atau Rp14,45 miliar, Infrastruktur 20,01 persen atau Rp13,16 miliar, Barang Baku 8,36 persen atau Rp5,50 miliar, dan Lainnya 9,79 persen atau Rp6,43 miliar.
"Berbeda dengan reksa dana, penghimpunan dana lewat IPO justru lesu. Dana IPO sepanjang 2025 baru Rp100,69 miliar, turun tajam dari 2024 yang mencapai Rp819,89 miliar. Saat ini jumlah emiten IPO asal Jatim tercatat 57 perusahaan dengan total dana terhimpun Rp14,94 triliun." jelasnya.
Masih ada 6 calon emiten potensial. Emiten Sektor Barang Baku yang terdiri dari 18 perusahaan mendominasi penghimpunan dana emiten Jawa Timur, yaitu sebesar Rp8,18 triliun atau 54,02 persen dari total dana terhimpun. Dari sisi komposisi emiten, Barang Baku juga paling besar 54,78 persen, disusul Barang Konsumen Non Primer 14,48 persen, Keuangan 10,24 persen, Barang Konsumen Primer 7,46 persen, Kesehatan 5,54 persen, Properti dan Real Estate 5,26 persen, Transportasi dan Logistik 2,75 persen, Perindustrian 0,64 persen, Teknologi 0,58 persen, dan Infrastruktur 0,27 persen.
Meski IPO sepi, pertumbuhan investor ritel sangat pesat. Per April 2026 Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Single Investor Identification atau SID terbanyak ketiga nasional. Total SID Jatim mencapai 2.989.513, tumbuh 60,47 persen yoy. Posisi Jatim berada di bawah Jawa Barat dengan 5.260.634 SID yang tumbuh 75,27 persen, dan DKI Jakarta dengan 4.378.883 SID yang tumbuh 16,72 persen.
"Jatim unggul atas Jawa Tengah dengan 2.917.434 SID yang tumbuh 72,26 persen dan Banten dengan 1.422.902 SID yang tumbuh 71,90 persen." ujarnya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....