EastFood Indonesia 2026, Ruang Bertemunya Inovasi, Teknologi, dan Peluang Bisnis
- 15 Jun 2026 20:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,96 persen pada Triwulan I 2026, optimisme terasa semakin kuat dari sektor makanan dan minuman. Angka itu bukan sekadar statistik, sebab di dalamnya terdapat jutaan pelaku usaha, rantai pasok yang terus bergerak, serta industri pengolahan yang menjadi tulang punggung perekonomian provinsi ini.
Momentum tersebut akan menemukan panggungnya melalui penyelenggaraan Indonesia International Food Expo (IIFEX) atau EastFood Indonesia 2026 yang berlangsung pada 18–21 Juni 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya. Diselenggarakan oleh Krista Exhibitions, pameran internasional ini bukan sekadar etalase produk makanan dan minuman, melainkan ruang bertemunya inovasi, teknologi, investasi, dan sumber daya manusia yang menopang industri pangan nasional.
Jawa Timur memang memiliki alasan kuat untuk menjadi tuan rumah. Berdasarkan data Dinas Perdagangan Jawa Timur, struktur ekonomi provinsi ini ditopang oleh sektor industri pengolahan sebesar 31,45 persen.
Industri makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor makanan dan minuman bahkan telah mencapai Rp. 451 triliun dengan rata-rata pertumbuhan 11,6 persen per tahun sejak 2021.
“Ini salah satu pameran yang secara konsisten diselenggarakan di Surabaya dan dari tahun ke tahun memberikan dampak yang luar biasa bagi Jawa Timur,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Jawa Timur, Yudi Arianto, Senin, 15 Juni 2026 saat prescon di Surabaya.

Tak mengherankan bila EastFood Indonesia 2026 diproyeksikan menjadi salah satu ajang industri pangan terbesar di Indonesia Timur. Lebih dari 180 peserta dari dalam dan luar negeri akan berpartisipasi, termasuk puluhan UMKM yang mendapat kesempatan memperluas pasar dan jaringan bisnis.
Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan bahwa EastFood Indonesia dirancang sebagai solusi satu atap bagi para pelaku usaha.
"EastFood Indonesia 2026 bukan sekadar tempat pameran produk. Ini adalah platform strategis bagi para pelaku usaha untuk saling bertukar inovasi, melihat tren pasar global, dan menemukan teknologi pengolahan pangan terbaru demi meningkatkan efisiensi produksi," ujarnya.
Menurut Daud, perkembangan industri pangan saat ini menuntut pelaku usaha untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga standar keamanan pangan yang semakin ketat. Karena itu, pameran ini menghadirkan berbagai sektor yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Di area inovasi bahan baku, pengunjung dapat menemukan beragam produk pangan segar, bahan bakery, produk susu, keju, bumbu instan, hingga bahan pangan premium dari produsen lokal maupun internasional. Bagi UMKM, akses terhadap bahan baku berkualitas menjadi fondasi penting untuk menjaga konsistensi produk sekaligus meningkatkan daya saing.
"EastFood Indonesia Expo (IIFEX) 2026 akan menghadirkan lebih dari 180 peserta pameran dari dalam maupun luar negeri, sekaligus menyediakan ruang promosi dan pengembangan usaha bagi 30 UMKM. Krista Exhibitions Group optimis dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi regional secara berkelanjutan, membuka peluang investasi baru, serta memfasilitasi bertemunya para produsen, distributor, dan konsumen internasional dalam memperkuat ketahanan industri pangan dan pengemasan nasional," tegas Daud.

Sementara itu, area Processing and Packaging Technology menawarkan berbagai mesin pengolahan makanan modern, sistem produksi otomatis, hingga teknologi pengemasan terkini yang semakin dibutuhkan industri.
Peran kemasan kini tidak lagi sebatas pelindung produk. Kemasan menjadi identitas merek, sarana komunikasi dengan konsumen, sekaligus faktor penting yang menentukan peluang produk menembus pasar ekspor.
Business Development Indonesian Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti, menilai perkembangan teknologi pengemasan saat ini bergerak sangat cepat, terutama dengan masuknya teknologi digital dan kecerdasan buatan.
“Kompleks sekali hutan belantara packaging sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Ariana, sekitar 50 persen bahan baku pengemasan masih bergantung pada impor. Namun kondisi tersebut justru membuka peluang inovasi baru bagi industri nasional.
Dalam pameran ini, IPF akan menghadirkan seminar khusus yang membahas tantangan dan peluang teknologi pengemasan menuju ekonomi sirkular.
Konsep ekonomi sirkular inilah yang juga menjadi perhatian Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI). Pengurus Bidang Luar Negeri GAPMMI, Iwan Winardi, melihat EastFood Indonesia sebagai ruang yang mampu menghubungkan seluruh rantai industri mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan.
"Semoga menciptakan generasi baru wiraswasta dengan melihat bahan baku secara langsung, sehingga tumbuh inspirasi dan inovasi," katanya.

Selain teknologi dan bisnis, EastFood Indonesia juga menghadirkan ruang edukasi yang luas. Berbagai seminar, lokakarya, dan diskusi industri akan membahas isu strategis seperti sertifikasi halal, regulasi BPOM dan PIRT, digitalisasi usaha, pengembangan merek, hingga strategi ekspor.
Program Business Matching dan Hosted Buyer Program menjadi salah satu daya tarik utama. Melalui pertemuan bisnis yang terjadwal, pelaku UMKM berkesempatan bertemu langsung dengan distributor, investor, importir, eksportir, hingga calon pembeli dari berbagai negara.
Bagi banyak pelaku usaha kecil, kesempatan semacam ini sering kali menjadi titik awal ekspansi bisnis. Dari satu meja pertemuan dapat lahir kontrak dagang baru, jaringan distribusi baru, bahkan peluang ekspor yang sebelumnya sulit dijangkau.
Pameran ini juga akan semakin semarak dengan kehadiran berbagai Cooking and Baking Demo yang melibatkan chef profesional serta merek-merek ternama seperti IndoBake, Kewpie, dan Rich's. Tidak hanya itu, sejumlah kompetisi kuliner nasional akan digelar melalui Bakat Boga Challenge 2026.
Kompetisi yang lahir di Yogyakarta tersebut kini menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para profesional kuliner, pelajar, dan pelaku usaha makanan. Total 18 kategori akan dipertandingkan, mulai dari Lapis Surabaya, Bolu Gulung Keju, Traditional Jajanan Pasar, hingga Chicken Main Course Indonesian Style yang menjadi salah satu kategori paling diminati.
Ketua Komite Bakat Boga Surabaya Association of Culinary Professionals (ACP), Chef Tius Faisal Martadinata, menyebut antusiasme peserta terus meningkat setiap tahun.
“Antusiasme peserta sangat tinggi, terutama kategori chicken main course Indonesian style dan kompetisi soto ayam,” katanya.
Dampak penyelenggaraan EastFood Indonesia tidak hanya dirasakan sektor pangan. Industri perhotelan, restoran, kafe, hingga ritel juga melihat pameran ini sebagai penggerak ekonomi daerah.
Wakil Ketua Bidang Legalitas PHRI Jawa Timur, Rumadhono Sumanto, berharap kehadiran ribuan peserta dan pengunjung mampu meningkatkan tingkat hunian hotel di Surabaya. Sementara APRINDO memandang pameran ini sebagai katalisator yang memperkuat hubungan antara produsen dan jaringan ritel.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, EastFood Indonesia 2026 menjadi bukti bahwa industri pangan Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi terus bertransformasi. Dari bahan baku, teknologi pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga pemasaran, seluruh mata rantai industri dipertemukan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....