Etika Pemasaran Digital, Kunci Kepercayaan Konsumen

  • 14 Jan 2026 19:24 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pesatnya perkembangan media sosial dan e-commerce membuat siapa pun kini bisa memasarkan produk secara digital. Namun di balik kemudahan tersebut, etika pemasaran menjadi faktor krusial agar kepercayaan konsumen tetap terjaga.

Hal itu disampaikan Ali Imaduddin Futuwwah, S.Sos., M.SM., CMA, dosen Manajemen Pemasaran FEB Universitas Muhammadiyah Surabaya ( UMSURA ). “Di dunia digital, konsumen membeli berdasarkan kepercayaan, bukan sentuhan. Kita tidak bertemu langsung dengan penjual, sehingga informasi yang disampaikan harus jujur dan bertanggung jawab,” ujarnya. Rabu, (14/1/2026).

Ali menjelaskan, salah satu masalah utama pemasaran digital saat ini adalah maraknya praktik tidak etis, seperti overclaim produk, testimoni palsu, hingga promosi oleh influencer tanpa transparansi. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi merusak kepercayaan pasar secara luas.

“Yang paling sering kita temui adalah klaim berlebihan, misalnya skincare yang diklaim memutihkan permanen atau obat herbal yang disebut bisa menyembuhkan penyakit berat tanpa dasar ilmiah,” katanya.

Ia menegaskan, jika praktik-praktik tersebut terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga pelaku usaha yang jujur. “Konsumen bisa trauma berbelanja online, dan pelaku usaha yang etis ikut terkena imbasnya. Ini yang disebut kerusakan kepercayaan pasar,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa etika bukanlah penghambat bisnis, melainkan strategi jangka panjang. Dalam ekonomi digital, kepercayaan justru menjadi aset bernilai tinggi.

“Brand yang jujur akan lebih dipercaya, direkomendasikan, dan bertahan lama. Sebaliknya, yang tidak etis mungkin untung cepat, tapi juga cepat ditinggalkan,” tuturnya.

Khusus bagi UMKM dan brand lokal di Surabaya dan Jawa Timur, ia berpesan agar tidak takut bersikap transparan kepada konsumen. Menurutnya, konsumen saat ini semakin kritis dan menghargai kejujuran.

“Lebih baik menyampaikan kekurangan produk daripada membohongi. Brand yang jujur justru dianggap lebih manusiawi dan bisa dipercaya,” ucapnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa di era digital, pemasaran bukan sekadar menjual produk, tetapi membangun relasi berbasis kepercayaan. “Kita tidak hanya menjual barang, kita menjual kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa dibangun dengan etika,” kata Ali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....