Ekonom: Daya Saing Bisnis Bergantung Produktivitas dan Kemampuan Adaptasi

  • 10 Jun 2026 18:45 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketidakpastian ekonomi global, percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), serta perubahan perilaku konsumen menjadi tantangan yang harus dihadapi dunia usaha pada 2026. Ekonom senior Indonesia, M. Chatib Basri, menilai perusahaan tidak lagi dapat mengandalkan faktor-faktor pertumbuhan tradisional seperti biaya modal yang rendah atau ketersediaan tenaga kerja murah.

Menurutnya, daya saing bisnis ke depan akan lebih ditentukan oleh produktivitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. "Pertumbuhan ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan meningkatkan produktivitas, mengalokasikan sumber daya secara lebih presisi, serta membangun ketahanan agar tetap adaptif terhadap perubahan," kata Chatib.

M. Chatib Basri, ekonom senior Indonesia sekaligus Menteri Keuangan Republik Indonesia periode 2013-2014, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan ekonomi global dan pentingnya produktivitas, efisiensi alokasi sumber daya, serta ketahanan bisnis sebagai kunci pertumbuhan perusahaan.(Foto: Humas)

Kondisi tersebut menuntut perusahaan lebih cermat dalam menyusun strategi pertumbuhan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Hal itu mengemuka dalam Grab Business Forum 2026 bertema "The Next Chapter: Scale Smarter, Execute Faster" yang digelar di Jakarta, Senin, 9 Juni 2026. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha, ekonom, pembuat kebijakan, dan praktisi industri untuk membahas strategi menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam pemanfaatan teknologi AI. Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tetap melibatkan pertimbangan manusia dalam proses pengambilan keputusan.

"Perusahaan perlu memahami persoalan apa yang memang perlu diselesaikan dengan AI dan menyiapkan talenta yang mampu menggunakannya secara kritis dan bertanggung jawab. Peran manusia tetap penting dalam memahami konteks dan memastikan hasilnya relevan bagi kebutuhan bisnis," ujarnya.

Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan perusahaan saat ini menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan efisiensi operasional. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat proses pengambilan keputusan berbasis data.

"Melalui Grab Business Forum 2026, kami ingin menghadirkan perspektif dari berbagai industri yang dapat membantu para pemimpin bisnis menerjemahkan ambisi pertumbuhan menjadi hasil yang terukur,” ujar Neneng, melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam forum tersebut juga dibahas pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung operasional perusahaan, mulai dari mobilitas karyawan, perjalanan dinas, hingga pengelolaan pengeluaran perusahaan. Digitalisasi proses administrasi dinilai mampu mengurangi pekerjaan yang bersifat repetitif sehingga sumber daya dapat lebih difokuskan pada aktivitas yang memberikan nilai tambah bagi bisnis.

Direktur Manajemen Human Capital dan Administrasi PLN Icon Plus, Dedi Budi Utomo, mengatakan digitalisasi pengelolaan mobilitas karyawan membantu perusahaan meningkatkan efisiensi kerja. Menurutnya, proses verifikasi dan pelaporan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari kini dapat dilakukan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

"Grab For Business membantu kami melalui akses terhadap armada kendaraan listrik, sekaligus memudahkan pengelolaan mobilitas ribuan karyawan dari Kantor Pusat Jakarta hingga berbagai kantor SBU di seluruh Indonesia untuk membantu kegiatan operasional," katanya.

Selain efisiensi operasional, forum tersebut juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip keberlanjutan dalam kegiatan bisnis. Pemanfaatan kendaraan listrik dan pengukuran emisi dari aktivitas operasional dinilai menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memenuhi target lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

Melalui forum ini, para pelaku usaha didorong untuk lebih adaptif dalam menghadapi perubahan ekonomi global, memanfaatkan teknologi secara tepat guna, serta memperkuat efisiensi operasional guna menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....