Batik Berlayar Jadi Agenda Utama Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya

  • 16 Sep 2026 18:59 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Sekitar 10 perahu berhias motif batik khas Jawa Timur akan menyusuri Sungai Kalimas pada 2 Oktober 2026, dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam
  • Batik Berlayar menjadi bagian Hari Batik Nasional ke-17 di Surabaya, bersama pameran perajin dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur
  • HBN 2026 juga menjawab tantangan regenerasi batik melalui teknologi, kreativitas, dan pelibatan generasi muda agar batik semakin dekat dengan keseharian.

RRI.CO.ID, Surabaya - Sekitar 10 perahu berhias motif batik akan menyusuri Sungai Kalimas, Surabaya, pada 2 Oktober 2026. Agenda bertajuk Batik Berlayar ini menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional (HBN) ke-17, yang berlangsung 30 September hingga 4 Oktober 2026.

Perahu akan bergerak dari kawasan Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam, membawa ornamen batik khas Jawa Timur. Sepanjang perjalanan, masyarakat dan tamu akan disuguhi pertunjukan seni, musik, perkusi, tari, hingga permainan cahaya di sepanjang Sungai Kalimas.

Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Pratama Kartasasmita, mengatakan HBN 2026 dirancang sebagai ruang pengalaman bagi masyarakat, bukan sekadar pameran. "Kami ingin menjadikan ruang pengalaman," ujarnya saat konferensi pers HBN 2026 di Surabaya, Rabu, 16 September 2026.

Batik Berlayar menjadi salah satu cara membawa batik keluar dari ruang pamer dan hadir di ruang publik ikonik Surabaya. Selain agenda tersebut, pameran batik digelar di Grand Atrium dan Corridor Tunjungan Plaza 3 pada 30 September hingga 4 Oktober 2026.

Pameran menghadirkan perajin dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, dengan teknologi LED, LED floor, fashion show, Reels Competition, dan workshop digital usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kecerdasan artifisial. Batik Tulungagung mendapat sorotan melalui motif Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan, dan Kalangbret.

Ketua Panitia HBN 2026 sekaligus Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur, Ir Wirasno, mengatakan pemilihan Batik Tulungagung berkaitan dengan upaya menjaga warisan budaya di tengah berkurangnya jumlah perajin.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan Jawa Timur memiliki kekayaan motif batik yang tersebar di berbagai daerah. Ia menyebut terdapat 23 provinsi yang memiliki industri kecil dan menengah batik secara nasional. Namun, industri batik menghadapi perlambatan ekspor sekitar 30 persen dan volume ekspor triwulan II 2026 turun 13,76 persen.

Reni menilai pasar domestik perlu diperkuat untuk menjaga keberlangsungan industri batik dan kehidupan para perajin. "Kita tidak ingin perajin atau kota batik tinggal sejarah," katanya.

Sementara itu, tantangan lain datang dari regenerasi dan kedekatan batik dengan generasi muda. Gita mengatakan generasi Z menyukai batik, tetapi penggunaannya masih dianggap kurang praktis untuk keseharian.

"Bagi kami, Gen Z pakai batik saja sudah bagus," kata Gita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....