Rasa Nyaman saat Ngobrol jadi Pemicu Awal Perselingkuhan
- 22 Apr 2026 12:39 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena perceraian yang kerap terjadi belakangan ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Jika ditelusuri lebih dalam, kondisi tersebut ternyata dipicu oleh beragam faktor, mulai dari masalah ekonomi, kesiapan mental, hingga ketidaksetiaan dalam hubungan rumah tangga.
Hal ini disampaikan oleh psikolog asal Surabaya, Wenika, yang dihubungi Pro1 RRI Surabaya melalui sambungan telepon, Rabu 22 April 2026. Ia menilai bahwa fenomena perceraian saat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika psikologis pasangan.
Menurut Wenika, faktor perselingkuhan kini menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka perceraian. “Masih banyak pasangan yang secara sadar atau tidak sadar masuk dalam pusaran ini. Dalam istilah populer, pelakunya sering disebut sebagai Pelakor atau Pebinor,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada dinamika psikologi dan komunikasi yang berperan di balik terjadinya perselingkuhan. “Obrolan dengan selingkuhan terasa ringan bukan karena hubungan itu sehat, tapi karena tidak ada beban tanggung jawab, tidak ada konflik nyata yang harus diselesaikan, dan tidak ada sejarah luka yang menumpuk seperti dengan pasangan sah,” ujar Wenika.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa ketika hubungan mengalami masalah, kedekatan emosional yang merenggang dapat mendorong seseorang mencari kenyamanan di luar hubungan. Kehadiran orang ketiga sering kali menjadi tempat pelarian yang memberikan dukungan cepat dan validasi instan.
Dalam praktiknya, pola komunikasi antara pelaku perselingkuhan dan orang ketiga sering memiliki kesamaan tertentu. “Kalau dua orang punya musuh yang sama, percakapan jadi terasa lebih dekat. Dan sering kali ‘musuhnya’ adalah pasangan sah itu sendiri,” katanya.
Menurut Wenika, hal ini membuat interaksi dengan orang ketiga terasa lebih mudah karena fokus percakapan cenderung menyalahkan pasangan resmi. Sebaliknya, komunikasi dengan pasangan sah terasa lebih berat karena berhadapan dengan realitas, tanggung jawab, serta penyelesaian masalah yang nyata.
Oleh karena itu, Wenika menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. “Komunikasi itu skill yang membutuhkan usaha, ketenangan, dan keinginan memahami, bukan mau menang sendiri. Kalau skill-nya tidak dimiliki, hubungan dengan siapa pun hasilnya akan sama saja, yaitu rusak,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....