Tak Selalu Harus Ikut Tren, Mengenal JOMO yang Mulai Banyak Dibicarakan
- 07 Agt 2026 12:55 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Media sosial membuat informasi bergerak begitu cepat. Mulai dari tren, destinasi wisata, konser, hingga gaya hidup, semuanya dapat menjadi perbincangan hanya dalam hitungan jam. Di tengah derasnya arus informasi tersebut, banyak orang berusaha untuk terus mengikuti perkembangan agar tidak merasa tertinggal. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO.
Dalam APA Dictionary of Psychology, FOMO dijelaskan sebagai kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang menikmati pengalaman yang lebih memuaskan dibanding dirinya. Perasaan tersebut mendorong seseorang untuk terus mengikuti aktivitas orang lain agar tidak merasa tertinggal.
"Fear of Missing Out (FOMO) adalah kecemasan yang muncul karena seseorang merasa orang lain sedang memperoleh pengalaman yang lebih memuaskan dibanding dirinya," demikian definisi yang tercantum dalam APA Dictionary of Psychology.
Di tengah fenomena tersebut, belakangan muncul istilah Joy of Missing Out atau JOMO. Berbeda dengan FOMO yang telah banyak dikaji dalam psikologi, JOMO merupakan istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan perasaan nyaman ketika seseorang memilih tidak mengikuti setiap tren, undangan, atau percakapan di media sosial. Istilah ini tidak termasuk diagnosis maupun gangguan psikologis, melainkan lebih menggambarkan cara sebagian orang menyikapi derasnya arus informasi di era digital.
| Baca juga: Candi Sumur, Wisata Sejarah di Sidoarjo |
Perkembangan istilah JOMO juga mulai menarik perhatian kalangan akademisi. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Consumer Affairs menjelaskan bahwa praktik menggunakan media sosial secara lebih sadar (mindful social media use) dapat membantu seseorang mengurangi tekanan untuk selalu terhubung dengan dunia digital.
"Mindful social media use can help consumers move from fear of missing out (FOMO) to joy of missing out (JOMO)," tulis peneliti dalam artikel yang dipublikasikan di Journal of Consumer Affairs.
Bagi sebagian orang, JOMO dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti tidak merasa harus membuka setiap notifikasi, tidak selalu mengikuti tren yang sedang viral, atau menikmati waktu bersama keluarga tanpa terus-menerus memeriksa telepon genggam. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua orang.
Pada akhirnya, baik FOMO maupun JOMO menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya membantu aktivitas manusia, bukan justru menjadi sumber tekanan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menentukan prioritas dan menggunakan media sosial secara bijak menjadi bagian penting dalam membangun kesejahteraan digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....