Ngobras Pro1 Angkat Perjuangan PSBKI Lestarikan Tari Remo

  • 23 Apr 2026 22:47 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Program dialog interaktif “Ngobras” Pro1 kembali menghadirkan warna baru dengan mengundang narasumber dari kalangan penggiat seni budaya. Dalam edisi terbaru yang digelar pada Kamis 23 April 2026, komunitas Sanggar Tari Perguruan Seni Budaya Kampoeng Ilmu (PSBKI) hadir untuk berbagi kisah perjuangan mereka dalam melestarikan budaya lokal Surabaya.

Dialog yang dipandu oleh Joe Adi Yuanda tersebut berlangsung hangat dan penuh inspirasi. Ketua PSBKI, Teguh, bersama Sekretaris Yuli, menjadi narasumber utama dengan mengangkat tema pentingnya peran komunitas dalam menjaga eksistensi budaya daerah, khususnya seni Tari Remo sebagai identitas khas Surabaya.

Dalam pemaparannya, Teguh menjelaskan awal mula berdirinya PSBKI yang berlokasi di kawasan Kampung Ilmu, Jalan Semarang 55 Surabaya. Ia mengungkapkan bahwa komunitas ini resmi berdiri pada 7 Juni 2015 sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan budaya lokal yang mulai tergerus zaman.

“Awalnya hanya berangkat dari kegelisahan melihat banyaknya klaim dari negara luar terhadap budaya Indonesia, seperti Reog Ponorogo atau lagu Rasa Sayange,” ungkap Teguh saat menceritakan latar belakang berdirinya komunitas tersebut.

Kekhawatiran akan hilangnya identitas budaya menjadi pemicu utama Teguh bersama empat rekannya untuk mendeklarasikan PSBKI. Seiring waktu, komunitas ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Surabaya yang menyediakan fasilitas berupa pendopo di kawasan Kampung Ilmu sebagai tempat berkegiatan.

Sementara itu, Yuli menegaskan bahwa gerakan melestarikan seni tari tidak hanya sekadar aktivitas seni, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap derasnya arus budaya asing. Ia menilai generasi muda perlu diperkuat dengan nilai-nilai budaya lokal agar tidak kehilangan jati diri.

“Keinginan kami untuk melestarikan seni tari ini adalah sebagai salah satu langkah ‘nguri-uri’ budaya atau melestarikan budaya lokal untuk menangkis serbuan budaya asing yang datang dari luar seperti Jepang, Korea dan lainnya,” jelas Yuli di hadapan peserta dialog.

Dalam perjalanannya, PSBKI menghadapi berbagai tantangan, mulai dari minimnya minat generasi muda hingga keterbatasan sarana. Namun, mereka tetap konsisten melakukan berbagai upaya kreatif, seperti pertunjukan keliling kampung, mengajak masyarakat menari bersama, hingga mengedukasi siswa di sekolah-sekolah tentang Tari Remo.

Berkat kegigihan tersebut, kini PSBKI berhasil menarik minat ratusan anggota dari berbagai kalangan usia. Ke depan, Teguh berharap semakin banyak warga Surabaya yang mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri. “Kami ingin semakin banyak warga kota yang tahu dan bangga akan peninggalan seni asli Surabaya, yakni Tari Remo,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....