Program 'Sinau Basa Jawa' Bedah Rahasia Ater-ater Kuma, Kapi, dan Kami

  • 14 Mei 2026 15:30 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Upaya melestarikan bahasa daerah terus digencarkan melalui berbagai platform. Pada Kamis, 14 Mri 2026, program Sinau Basa Jawa di Pro 4 RRI Surabaya kembali hadir menyapa pemirsa dan pendengar setianya. Edisi kali ini menghadirkan bahasan mendalam mengenai tata bahasa Jawa, khususnya penggunaan imbuhan atau ater-ater yang mulai jarang dipahami oleh generasi milenial.

Hadir sebagai narasumber, Rahmad Budi Utomo, yang menjabat sebagai Ketua DPW Persatuan Pambiwara Indonesia (PEPARI) Jawa Timur. Dalam durasi siaran tersebut, ia mengupas tuntas fungsi dan makna dari tiga imbuhan spesifik: Ater-ater Kuma, Kapi, dan Kami.

Menurut Budi, penggunaan ater-ater ini bukan sekadar pelengkap kata, melainkan pemberi warna makna yang sangat spesifik dalam kalimat bahasa Jawa. Berikut adalah poin-poin penting yang dibahas:

Ater-ater Kuma-: Digunakan untuk menyatakan sifat yang "menyerupai" atau "berlagak". Contoh: Kumawani (berlagak berani), Kumayu (merasa paling cantik), Kumaki (angkuh/sombong).

Ater-ater Kapi-: Digunakan untuk menyatakan perasaan yang sangat mendalam atau "terlalu". Contoh: Kapiluyu (terbawa suasana), Kapidara (pingsan karena sedih/sakit yang amat sangat), Kapirangu (ragu-ragu yang mendalam).

Ater-ater Kami-: Digunakan untuk menyatakan kondisi tubuh atau perasaan yang muncul secara spontan atau berlebihan. Contoh: Kamigilan (sangat jijik), Kamitenggengen (tertegun/melongo), Kamiseseg (tersedu-sedu).

Sebagai Ketua PEPARI Jatim, Rahmad menekankan bahwa seorang Pambiwara (pembawa acara adat Jawa) harus memiliki ketelitian dalam memilih kata. "Pemilihan imbuhan yang tepat akan menentukan kualitas sastra dan rasa dari apa yang diucapkan. Jika kita salah menempatkan ater-ater, maka ruh dari kalimat tersebut bisa hilang," ujar Budi di studio Pro 4 RRI Surabaya.

Beliau juga mengajak para pendengar, terutama anak muda, untuk tidak malu menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian. Menurutnya, bahasa Jawa memiliki estetika yang tinggi yang tidak dimiliki oleh bahasa lain di dunia.

Diskusi berlangsung interaktif dengan adanya pertanyaan yang masuk melalui sambungan telepon. Ada pendengar yang baru menyadari bahwa kata-kata seperti Kamitenggengen ternyata memiliki akar tata bahasa yang terstruktur, bukan sekadar kata sifat biasa.

Program Sinau Basa Jawa sendiri merupakan komitmen RRI Surabaya sebagai Lembaga Penyiaran Publik untuk terus menjadi benteng pertahanan budaya di tengah arus modernisasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....